Iman dan Cinta.
(Beriman melalui Cinta)
Free Download PDF (english version):
coming soon!
Free Download PDF / Gratis format buku (PDF) (bahasa Indonesia)
Free Download More Edition / Edisi lebih lengkap :
Web Blog GII:
Our Forum-Web / Diskusi Web Kita:
Beritahukan kepadaku tentang Iman, Rasulullah menjawab,"Engkau beriman kepada Alloh, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk”. Hadits Riwayat Imam Muslim (Kutb Arbain Nawawi).
Mukadimah.
Bagi seorang muslim, yang mendasar dan harus dipahami adalah tentang iman, tidak peduli siapapun kita (hetero, homo, trans, bisek), keimanan adalah mutlak untuk membedakan bahwa kita adalah muslim dan lainnya adalah non muslim. Karenanya iman memiliki pengertian sebagai “tiang rumah” dari agama islam, dan isinya adalah “perangkat rumah” yang disebut rukun islam (vol 1-no 7).
Adalah hak setiap manusia untuk memilih imannya masing-masing, sebuah keyakinan tidak bisa dipaksakan (Al Baqarah (2): 256), karena ini berhubungan dengan kecendrungan hati yang sangat subjektif. Realitas yang Maha Tinggi tetaplah diluar jangkauan manusia bahkan sekalipun oleh nabi dan rashul (Asy Syuura (42): 51 ; Al A’raaf (7): 143). Hanya dengan imanlah, salah satu perantara utama bagi “perjumpaan” kita dengan-Nya.
Edisi ini kita akan membahas tentang iman dan hubungannya dengan cinta. Iman adalah ketetapan dalam hati, ’kepasrahan’ akan suatu keyakinan. Karena setidaknya, ada batas-batas mutlak di setiap keyakinan manusia, dimana akal tidak lagi bisa menjangkau, sehingga perlu suatu ”ruang iman” untuk menempatkan kekosongan ini. Walaupun atheis sekalipun, misalnya saat mereka ditanya : ”bagaimana suatu sel paling sederhana sekalipun dengan struktur dan rangkaian DNA yang luar biasa komplek bisa tercipta begitu saja sebagai awal permulaan kehidupan di bumi?” sebagian besar akan menjawab ”ini adalah suatu kebetulan yang sangat kreatif”, suatu kata ”kreatif” mengawali kaum atheis untuk secara tidak langsung mengimani suatu hal, kejadian ”Yang Maha Kreatif”. Nyatanya bahwa dunia ini dipenuhi oleh suatu kebetulan yang tidak pernah sia-sia. Dan dari sinilah kebutuhan akan iman tumbuh secara alami sebagai jawaban atas sesuatu yang tidak pernah dan belum bisa terjawab dalam hidup kita.
Islam menegaskan tentang enam rukun iman: 1. Beriman kepada Alloh Swt sebagai satu-satunya Tuhan bagi manusia. 2. beriman kepada Malaikat-Malaikat sebagai utusan Alloh Swt. 3. Beriman kepada Kitabulloh, Al Qur’an Al Karim, 4. Beriman kepada Rahululloh Saw s Beriman kepada Qada’ dan Qodar yang baik atau yang buruk sekalipun. 6. Beriman pada hari akhir, hari kiamat.
1. Awal : Iman adalah Pekataan dan Perbuatan
Bagi setiap muslim, keimanan bukan merupakan perkataan saja, tapi juga perbuatan, lebih lengkapnya: (1.) iman adalah prinsip tulus dan mendasar dalam hati, (2.) sehingga apa yang difikirkan sesuai dengan apa yang ada dalam prinsip hati (iman) tersebut, (3.) apa yang diucapkan sesuai dengan apa yang difikirkannya itu, (4.) apa yang diperbuat sesuai dengan apa yang diucapkannya, (5.) dan perbuatan itu baik bagi dirinya, orang lain danlingkungan hidup disekitarnya. Bagi seorang muslim, menjaga rangkaian keseimbangan ini adalah latihan yang mutlak adanya, dan keluar dari hal ini bisa dikatakan bagian dari tanda-tanda orang munafik: (a-b) perbuatan dan janji tidak sesuai dengan ucapan, akal sehat serta keyakinan di dalam hati, juga mereka yang (c) mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh dirinya sendiri, orang-orang disekitarnya dan masyarakat (bab al Jami’, Bulughul Maroom).
Maka jelaslah bahwa iman adalah prinsip paling dasar bagi seorang muslim untuk meraih keseimbangan hidupnya, setiap muslim dilatih setiap detik dan waktu untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip imannya. Walaupun demikian, hampir semua muslim menyadari bahwa keimanan bersifat naik dan turun, dan hal ini adalah bagian yang sangat manusiawi, karenanya merupakan sifat kemanusiaan diantaranya adalah kekhilafan dan pelupa (Hadits Arbain). Tugas seorang muslim adalah untuk terus mengusahakan terpeliharanya iman itu dalam gembaran keseharian hidupnya, baik dengan diri sendiri, orang-orang disekitarnya dan lingkungan hidup di sekitarnya.