Beribadah dan Kerja
(Homoseksual yang tetap beribadah)
Free Download PDF (english version):
Free Download PDF / Gratis format buku (PDF) (bahasa Indonesia)
Free Download More Edition / Edisi lebih lengkap :
Web Blog GII:
Our Forum-Web / Diskusi Web Kita:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa (Al Baqaarah (2) : 177).
1. Selalu Belajar Meng-Esa kan Ia Saja.
Alloh Swt, adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah, Tidak ada Tuhan selain Dia. Kata-kata kredo (semboyan) awal ini memang begitu sederhana, siapapun bisa mengucapkannya dan memahami maksud kata-katanya, terutama umat muslim pada semua tingkatan. Tegasnya adalah Tuhan kita Alloh Swt, yang memiliki Sembilan puluh Sembilan nama lainnya yang indah (asmaul husna) diantaranya : Sang Pengasih (Ar Rahman), Sang Penyayang (Ar Rahim), Sang Raja (Al Malik), Sang Suci (Al Quds), Sang Damai (As Salam), dan yang hanya satu-satunya memiliki dua puluh sifat keTuhanan, diantaranya : Yang Paling Sejati (Wujud), Yang Maha Awal (Qidam), Yang Paling Abadi (Baqo’), Maha Bediri Sendiri (Qiyamuhi Bi Nafs) adalah satu-satunya sumber agung dari kehidupan manusia, Sejak seseorang dilahirkan, masa kanak, masa belajar, masa dewasa, masa tua dan saat di akhirat.
Bahwa sering kali dunia ini mencoba memisahkan kita dari sumber Maha Agung itu, namun seiring dengan waktu, selalu saja Ia lah satu-satunya Sang Hakikat yang membuat jalan bagi kita untuk selalu tetap dekat pada-Nya, bisa dengan anugrah atau sering kali dengan suatu factor “X” (mis: musibah dan bencana), sesuatu yang tidak kita sangka-sangka, yang menggerakkan jiwa dan raga kita untuk menemukan “kepulangan” pada Wujud Hakikat Yang Maha Abadi. Bahwa dunia yang terlalu silau seperti lampu gemerlap diskotik, makanan yang dihidangkan bermacam-macam, senggama dengan tubuh dan wajah indah dengan bermacam gaya, kekasih yang hilir mudik datang untuk pergi, cinta yang menciptakan kerinduan, perjumpaan dan kesetiaan, kesuksesan dan kejayaan, bertumpuk-tumpuk harta dan kemewahan, beraneka pertunjukan dalam hidup, sesunggunya kesemuanya pada akhirnya tidak akan bisa menggantikan sesuatu yang paling bermakna, Sang Maha Hakikat, suatu sebab permulaan dari segala penciptaan, hakikat asal dari jiwa semua manusia, dan ketika “tempat” itu tak terisi untuk “Ia”, maka yang muncul adalah kehampaan dan keterasingan, pernah anda merasakanya?

