Sabtu, 26 Februari 2011

Buletin Jumat BISIKAN (GAY WHISPER'S) Vol.1. no.7. Ibadah dan Kerja (Homoseksual Yang Tetap Beribadah !)

Beribadah dan Kerja
(Homoseksual yang tetap beribadah)

Free Download PDF (english version):
Free Download PDF / Gratis format buku (PDF) (bahasa Indonesia)
Free Download More Edition / Edisi lebih lengkap :
Web Blog GII:
Our Forum-Web / Diskusi Web Kita:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa (Al Baqaarah (2) : 177).

1. Selalu Belajar Meng-Esa kan Ia Saja.
    Alloh Swt, adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah, Tidak ada Tuhan selain Dia. Kata-kata kredo (semboyan) awal ini memang begitu sederhana, siapapun bisa mengucapkannya dan memahami maksud kata-katanya, terutama umat muslim pada semua tingkatan. Tegasnya adalah Tuhan kita Alloh Swt, yang memiliki Sembilan puluh Sembilan nama lainnya yang indah (asmaul husna) diantaranya : Sang Pengasih (Ar Rahman), Sang Penyayang (Ar Rahim), Sang Raja (Al Malik), Sang Suci (Al Quds), Sang Damai (As Salam), dan yang hanya satu-satunya  memiliki dua puluh sifat keTuhanan, diantaranya :  Yang Paling Sejati (Wujud), Yang Maha Awal (Qidam), Yang Paling Abadi (Baqo’), Maha Bediri Sendiri (Qiyamuhi Bi Nafs) adalah satu-satunya sumber  agung dari kehidupan manusia, Sejak seseorang dilahirkan, masa kanak, masa belajar, masa dewasa, masa tua dan saat di akhirat.

    Bahwa sering kali dunia ini mencoba memisahkan kita dari sumber Maha Agung itu, namun seiring dengan waktu, selalu saja Ia lah satu-satunya Sang Hakikat yang membuat jalan bagi kita untuk selalu tetap dekat pada-Nya, bisa dengan anugrah atau sering kali dengan suatu factor “X” (mis: musibah dan bencana), sesuatu yang tidak kita sangka-sangka,  yang menggerakkan jiwa dan raga kita untuk menemukan “kepulangan” pada Wujud Hakikat Yang Maha Abadi. Bahwa dunia yang terlalu silau seperti lampu gemerlap diskotik, makanan yang dihidangkan bermacam-macam, senggama dengan tubuh dan wajah indah dengan bermacam gaya, kekasih yang hilir mudik datang untuk pergi, cinta yang menciptakan kerinduan, perjumpaan dan kesetiaan, kesuksesan dan kejayaan, bertumpuk-tumpuk harta dan kemewahan, beraneka pertunjukan dalam hidup, sesunggunya kesemuanya pada akhirnya  tidak akan bisa menggantikan sesuatu yang paling bermakna, Sang Maha Hakikat, suatu sebab permulaan dari segala penciptaan, hakikat asal dari jiwa semua manusia, dan ketika “tempat” itu tak terisi untuk “Ia”, maka yang muncul adalah kehampaan dan keterasingan, pernah anda merasakanya?

    Jumat, 18 Februari 2011

    Buletin Jumat BISIKAN (GAY WHISPER'S) Vol.1. no.6. Membuka Pintu Yang Tertutup Rapat ! (Sebuah Pandangan “lain” tentang Homoseks)

    Membuka Pintu Yang Tertutup Rapat !
    (Sebuah Pandangan “lain” tentang Homoseksualitas)

    Free Download PDF / Gratis format buku (PDF) (bahasa Indonesia)
    http://www.mediafire.com/?2ntwa6hwyvrw26d
    Free Download PDF (english version):
    http://www.mediafire.com/?ei74c19hdi49821
    Free Download More Edition / Edisi lebih lengkap :
    http://www.mediafire.com/bisikanbulletin
    Web Blog GII:
    http://gayislamindonesia.blogspot.com/2011/02/buletin-jumat-bisikan-gay-whispers-vol1_18.html

    I. Kembali ke Masa Depan.
    Edisi kali ini GII akan mencoba mengungkap carita tentang Luth di dalam al Qur’an, ini tentang suatu cerita yang sering kali menjadi i’tibar/dasar yang tiada akhir untuk mendiskriminasikan, mengkriminalkan dan menghujat LBGT (homoseksual) dengan perasaan tidak besalah dan berdosa, bahkan dianggap misi suci dari agama-agama samawi (ibahimi: Yahudi, Kristen, Islam) yang mengaku lebih suci dan rasional dan anti pemberhalaan.

    Dalam kasus ini, sebagian muslim dengan mengatas namakan al Qur’an sering kali mengutip ayat ayat tertentu untuk menghujat homoseksual tanpa berperasaan dan penuh kebencian, padahal pada kenyataannya apa yang mereka hujamkan di jantung sesama manusia apa lagi sesama muslim adalah tanggung jawab yang besar di akhirat kelak (an Nawawi: 35) dan belum tentu menyelesaikan masalah yang sesungguhnya terjadi atas kemunduran umat islam di abad-abad terakhir ini.

    Sejak munculnya pencerahan di Barat, dan kemunduran peradaban Islam setelah direbutnya Andalusia (Spanyol) yang pada waktu sebelumnya menjadi pusat diskusi antara Islam, Kisten dan Yahudi, serta runtuhnya kekuasaan dinasti Usmaniah, dan terpecah belahnya Kerajaan Islam di Jawa, maka islam menggantung dalam kondisi kehilangan visi masa depan dan justru menekankan pada kemurnian,  kembali ke salafi (tradisi masa sahabat nabi), kemurnian (menjauh dari banyak bid’ah), kekhilafahan (merujuk pada tadisi khilafah –khulafaurasyidin dan dinasti dinasti islam-), uzlah (penepian dari segala bentuk keduniawian). Sesuatu yang baik untuk menguatkan ketaqwaan, namun bukan sebagai ‘kotak pandora’ yang mampu menyelesaikan masalah-masalah muamalah (manusia dengan manusia) umat yang membutuhkan pemahaman baru dan keharmonian antara rasionalitas dan iman.

    Tragisnya, sejarah dialog filsafat yang diagungkan dalam islam (dimasa-masa khilafah-khilafah islam) yang mengakomodir tradisi bekas kerajaan besar yang diislamkan oleh masyarakat muslim (Romawi Timur, Persia dan Spanyol) justru diabad-abad terakhir dianggap sebagai penyebab keruntuhan peradaban islam. Sesuatu kesalahan yang sangat fatal dan berbahaya bagi masa depan Islam itu sendiri. Bahkan sebagian golongan muslim melulu menyalahkan peradaban Barat dan Yahudi atas kemunduran semua ini, akibatnya sebagian muslim tidak lagi bisa membedakan mana yang ilmu pengetahuan semesta (sunnatullah) dan mana yang merupakan dogma agama. Anti tehadap cara pikir barat jelas-jelas salah! Dan selalu menerima masa lalu apa adanya atas dasar kemurnian, keshalihan, kejayaan lama tanpa mengkritik pola pikirnya merupakan kekeliruan terbesar (taqlid dan jumud).

    Kamis, 10 Februari 2011

    Buletin Jumat BISIKAN (GAY WHISPER'S) Vol.1. no.5. KESEMPURNAAN (Memandang Dari Sudut Berbeda)

    “KESEMPURNAAN” (vol.1, no.5. Minggu ke-2, Februari 2011)
    Memandang Dari Sudut Berbeda.
    Free Download PDF (bahasa Indonesia):
    Free Download PDF (English version)
    Free Download More Edition/ Gratis Edisi Lengkap :



    …dan melanggarlah Adam kepada Tuhan dan tersalahlah ia. kemudian Tuhannya memilihnya. Maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu nasihat daripada-Ku, lalu Barangsiapa yang mengikut nasihat-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”
    (At Thoha 121-123)
    1. Kesempurnaan (di dunia) dengan meninggalkan Kesempurnaan (di surga)
    Selamat datang di dunia ini kawan, tempat kita dilahirkan, bermain, belajar, mencintai, mencari nafka, beribadah dengan khusuk, membangun biduk rumah tangga, berjuang dalam masyarakat dan lalu diwafatkan kita dalam damai.

    Selamat datang di dunia ini kawan, tempat kita dilahirkan (sebagai homo), bermain (dalam homo), belajar (beserta kehomoan), mencintai (dengan homo), mencari nafkah (bersama kehomoan), beribadah dengan khusuk (berusaha membuang kehomoan), membangun biduk rumah tangga (menyembunyikan kehomoan), berjuang dalam masyarakat (menolak kehomoan), dan lalu diwafatkannya kita  dalam damai (beserta rahasia kehomoan kita yang ikut terkubur).

    Dulu, Tuhan sengaja menciptakan “buah kuldi” untuk menciptakan larangan bagi Adam dan Hawa di surganya, tempat yang sempurna itu nyatanya telah menciptakan suatu larangan, dan  Tuhan pun telah menggariskan nasib bahwa Adam dan Hawa akan mencuri-curi kesempatan untuk “memetik” dan “memakan” buah di surga yang “sempurna” itu. Lalu Tuhanpun  memberi peringatan keras walau akhirnya  memberi pengampunan. Hingga pada gilirannya Ia “menurunkan” sepasang kekasih itu ke dunia. Bumi ini kawan, dunia yang diciptakan untuk Adam dan Hawa serta semua keturunannya. Yang tidak seperti di surga dimana nasi goreng, bakso, mie ayam, rujak, Junkfood dan semua keinginan langsung tersedia begitu saja di hadapan saat kita baru memikirkannya dalam otak, di Bumi ini kita harus berusaha untuk mendapatkan apapun (kecuali udara dan hangat mentari). Terkisahlah bahwa Adam dan Hawa ”turun” di bumi ini secara terpisah, lalu perlu ”ratusan” bahkan ”ribuan” tahun untuk bertemu kembali, ”ratusan hingga ribuah tahun” dalam suatu kesunyian, kehampaan, ketakutan, kepedihan dan juga kerinduan yang luar biasa. Inilah cerita ”ketidak sempurnaan” semua leluhur umat manusia, salah satu manusia sempurna yang tersebut dalam Qur’an, yang memiliki ketabahan luar biasa dan kekuatan untuk mampu bersahabat (bukan menundukkan atau menaklukkan) dengan alam bumi yang keras dan tidak selalu sempurna bagi keinginan manusia. Karenanya ”surga yang sempurna telah menciptakan ketidak sempurnaannya melalui ”buah quldi” untuk menyempurnakan Adam dan Hawa dengan turun ke dunia”.

    Sabtu, 05 Februari 2011

    Buletin Jumat BISIKAN (GAY WHISPER'S) Vol.1. no.4. MENYAPA DENGAN CARA GEMBIRA (Belajar Menerima Diri Sendiri)

    MENYAPA DENGAN CARA GEMBIRA (vol.1, no.4. )
    Free Download PDF (bahasa Indonesia):
    Free Download PDF (English version)
    Free Download More Edition :


    ً الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ - بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ [رواه مسلم]

    ”Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, mendustainya dan menghinakannya. Taqwa itu ada di sini (seraya menunjuk dada beliau tiga kali). Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya" (al Hadits)

    1. Dengan Menyapa ”tuhan” (Yang Bukan) Maha Pengasih dan Penyayang.

    Nun, entah sejak kapan bahwa manusia  mulai belajar membenci sesamanya. Bisa jadi semenjak ia akan diciptakan (al Baqarah, 31), atau sejak cerita pembantaian pertama di bumi antara Qabil dan Habil (al Maaidah, 27- 31).  Dalam sejarah manusia kebencian adalah tema-tema yang tak lekang zaman karena sering diingat dan ditulis, pembunuhan Julius Caesar oleh Brutus, atau pergantian dinasti-dinasti di Cina,  keganasan pasukan Mongol di seluruh dunia, , bibit kebencian antara Yahudi, Kristen dan Islam, sejarah kebencian antara Hindu, Budha dan Shik, kebencian yang menghasilkan Perang Dunia satu dan dua, kebencian antara Amerika dan Oshama, antara militan konsevatif barat dengan militan islam (kalau kami boleh melabeli), pula kebencian yang bisa muncul sewaktu-waktu antara Timur dan Barat.

    Kebencian lain adalah di dalam jantung Islam sendiri, karena kefanatikan buta satu aliran terhadap aliran yang lain, pembantaian Husain (cucu nabi)  oleh Yazid bin Muawiyah, bibit kebencian antara Sunni dan Syi’ah, antara satu pemikiran lama dengan satu pemahaman baru. Bahkan sering kali agama jatuh pada satu kultus tertentu yang terlalu dipuja dan disucikan lalu dengannya menghujat dan mengkafirkan kelompok lain yang mengambil sikap berbeda (bahkan tejadi sejak nabi wafat), Inilah dunia yang hidup tanpa membuka pintu cinta untuk-Nya.

    2. Menyapa Kawan untuk Menikmati Indahnya Hidup.
    Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur (al Sajdh:9). 

    Oh sahabat, dunia ini terlalu luas untuk dihabiskan dalam kebencian, ketakutan, pesimisme dan kesendirian.
    Setiap insan memiliki beban dan masalalah masing-masih, namun Allah Swt adalah Dzat yang selalu hadir untuk memberikan rahmat dan rahimnya bagi siapapun juga (tak peduli anda sedang berada di dekatnya atau “merasa” jauh dari-Nya). Memang selalu ada yang salah dalam hidup ini, kita sering kali melihat ketidak benaran di sekitar kita, atau sesuatu yang tidak kita inginkan di luar ”sana”, kita juga mengakui ada sesuatu yang mungkin tidak kita inginkan di dalam ”sini”, dalam diri kita, tubuh, jiwa, perbuatan yang kita lakukan, tapi hendaknya ini kita terima sebagai suatu kenyataan manusiawi bukan sebagai beban berat yang harus dipikul sepanjang kehidupan yang singkat ini.

    Cobalah untuk memahami bahwa kehidupan di dunia ini sangat luas dan beranekaragam. Ada banyak cara mencapai kebahagiaan. Lalu Allah Swt  meniupkan “ruh”-Nya dalam pendengaran, penglihatan dan hati kita untuk membuat kita bersyukur atas nikmat-Nya. Maka dengarkanlah apa yang diinginkan dari tubuh (telinga-pendengaran-raga) kita, barang kali diri kita membutuhkan banyak istirahat setelah lelah mengejar susuatu yang mungkin belum seperti yang kita harapkan, atau kita perlu membuka lebar-lebar ”telinga” (nasehat dan masukan orang lain), ”penglihatan” (pengetahuan, pengalaman dan ide orang lain), pula membuka hati kita untuk merasakan keinginan kita yang sesungguhnya dan perasaan yang dimiliki oleh orang-orang disekitar kita. Selalu ada banyak yang lebih menderita di “luar” sana, mereka yang sedang sakit, mereka yang sedang di dalam penjara, mereka yang mungkin lebih kesepian dari kita dan membutuhkan seseorang untuk sekedar hadir di dekatnya. Semakin kita membuka hati kita, semakin lapang dan luas dunia yang kita tinggali.

    Buletin Jumat BISIKAN (GAY WHISPER'S) Vol.1. no.3. SEBUAH PERJALANAN CINTA (menjadi "LELAKI" yang tabah!)


    SEBUAH PERJALANAN CINTA (vol.1, no.3. )
    Free Download PDF (bahasa Indonesia):
    Free Download PDF (English version)
    Free Download More Edition :



    Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang (Mariyam, 96)

    1. Dimulai dari Anak-Anak.

    Saat kita masih kecil, kita berfikir bahwa kita seperti semua teman sebaya yang kita kenali, bisa bermain bersama mereka, berbagi peran dalam drama-drama kecil kanak-kanak, kadang menangis, tapi sering kali tertawa, mungkin berkelahi, menang atau juga kalah. Anak-anak belum mengenal banyak perbedaan, sekali-kali mereka merasa paling benar sendiri tapi lebih banyak lagi rasa ingin tahu pada dunia yang baru mereka kenali, lalu mereka berbagi pengalaman sebanyak-banyaknya dengan teman-teman mereka.


    Tapi tidak semua anak bernasib sama. sebagian memendam pertanyaan semenjak kecil, suatu pertanyaan yang pada masa kecil tidak bermasalah, namun akan menjadi beban besar di saat dewasa kelak. Sebagian kecil anak laki-laki mungkin tidak terlalu suka konfrontasi, lebih suka menyanyi dan menari, tidak terlalu suka sepak bola, tidak terlalu sering bermain dengan anak laki-laki. Memang hal yang biasa, tapi bagaimana kalau anak laki-laki yang menyukai boneka dan ’gawat’ nya lagi merasa nyaman dengan sosok laki-laki!!

    2. Diteruskan di Sekolah.

    Mulanya hal itu sungguh-sungguh tak bermasalah di sebuah dunia yang disebut negeri bermain. Yang mereka tahu bagaimana bisa bermain dan menyelesaikan pemainan, tak peduli apa kesukaan pribadi masing-masing. Suatu dunia bermain yang bukan seperti pelajaran sekolah, dimana setiap individu hanya bisa di’gadai’kan dan dinilai dengan sedikit pilihan tolak ukur yang membatasi dan dibatasi. Dari A sampai F, dari 0 sampai 10, lalu dari situ muncul  anak cedas, anak biasa-biasa, dan yang paling sial anak bodoh, ada anak baik ada pula anak nakal, ada anak rajin, ada pula anak malas. Ketika dunia sudah dijejali batasan dan aturan, maka setiap orang terbiasa untuk tidak hanya mematuhi peraturan ”normal”, tapi juga meniadakan apa yang dianggapnya  lain atau ”liyan”. 
    Betapa bersyukur bagi sebagian orang yang mampu beradaptasi dengan aturan-aturan duniawi, sekolah sampai tinggi, mendapatkan pekerjaan yang mapan, keluarga yang harmonis, mati, lalu ”mungkin” akan masuk surga, betapa indahnya dunia. Tapi lebih banyak yang tidak seperti itu.

    Kamis, 03 Februari 2011

    Keduniawian dan Keakhiratan

    Free Download PDF (bahasa Indonesia):
    Free Download PDF (English version)
    Free Download More Edition :


    KEDUNAWIAN DAN KEAKHIRATAN

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
    (al Baqarah, 30)
    I. Berawal dari dunia.
    Diawali dari suatu pernyataan yang menggelitik tentang manusia dalam agama-agama besar dunia. Satu agama menyatakan bahwa kita adalah wujud reinkarnasi, yang lainnya bilang kita berasal dari jelmaan putra dewa, dan yang lainnya menyatakan bahwa kita berasal dari surga yang turun ke dunia. Mana yang benar dan mana yang salah? Ini adalah suatu pernyataan keimanan manusia yang paling hakiki, tidak ada yang tahu pasti berasal dari mana kita semua? Pengetahuan sebagai agama baru telah menyatakan faham evolusioner, bahwa kita dari kera dan lalu ditentang oleh pengetahuan sendiri, oleh ajaran neo creation yang menyatakan bahwa “satu sel yang paling sederhana saja tak bisa begitu saja diciptakan secara kebetulan, kaena secara bio molekuler dan genetic ternyata sangat komplek setara dengan kerumitan pesawat”. Apa mungkin ada suatu kebetulan  di dunia telah menciptan pesawat terbang? Bumi yang secara subtil seimbang? Siapa yang telah menciptakan semua ini? Tuhan? Siapa Tuhan? Dan untuk apa kita berada di sini?

    Ibrahim, bapak para nabi, memulai pencarian Tuhannya hanya dengan akalnya, di seputaran gurun Sinai ia mencari-cari Tuhan dari gejala alam, semula ia anggap matahai itu Tuhan, tapi ketika malam datang, di mana tuhan matahari?, lalu ia mencoba menyembah bintang dan bulan, tapi saat pagi, ia tak tahu dimana keduanya, lelah ia mencari, lalu pada akhirnya Tuhan menyuruh Jibril menunjukkan “muka”nya, dan mewahyukan Ibrahim tentang Tuhan yang sesungguhnya. Ini adalah kisah dari Islam dan semua agama satu rumpunnya, (Yahudi dan Kisten), bahwa suatu usaha “akal” akhirnya telah menemukan Tuhannya.
    Memang pada kenyataannya, kita tidak bisa beragama diawang-awang, Tuhan ada di mana-mana, tidak dibarat dan tidak di timur “la Masrq la maghrib”. Tuhan bahkan bisa lebih dekat dari kerongkongan kita, atau bisa jadi ia terlalu jauh untuk kita gapai, jauh di sana.

    Lalu beberapa agama mendengungkan kesucian untuk merebut dan mendekat  dengan Tuhan. Mensucikan diri mereka dari “duniawi”, mengurung diri dalam kehidupan sehari hari, atau membatasi diri dari dunia dan kenyataan hidup. Kesucian diri dalam islam adalah tema yang ada sejak lama, sejak jaman sahabat merupakan kajian yang muncul dan tenggelam, sama dengan hedonisme (kekuasaan dan terror), bahkan disetiap agama hal ini ada, para brahmin hindu, ordo-ordu pertapaan kristen, para biksu di vihara-vihara tertutup, rata-rata mempraktekkan kehidupan ketat yang jauh dari dunia yang mereka anggap “fana” yang bukan tujuan manusia sejati. Dunia dianggap godaan, kotor dan ancaman bagi sekian banyak aliran ini.

    Keberagamaan dalam Keberagaman















    \
    MENYAPA DENGAN CARA GEMBIRA (vol.1, no.4. )
    Free Download PDF (bahasa Indonesia):
    Free Download PDF (English version)
    Free Download More Edition :


    I. Islam dan keberagaman.


    Kita akhir-akhir ini sering terheran-heran dan canggung melihat islam di Indonesia terutama di wilayah perkotaan dipenuhi dengan semangat keislaman yang sangat menggebu-gebu. Di lain pihak ketersinggungan  negeri ini dengan kebudayaan di luar sana menambah cita rasa ke-Indonesiaan kita menjadi sangat “nendang dan nyuss”. Bebeapa kalangan diantara kita sungguh-sungguh mengusung agenda kebebasan pemikiran dalam islam (yang memang telah ada sejak lama di dunia islam, ingat mu’tazillah), yang lainnya mengajak untuk ‘kembali’ ke otentitak (sesuatu yang juga ada sezaman dengan mu’tazillah, diabad awal islam).

    Dahulu kala ketika Indonesia hanya mengenal TVRI dan TPI, hidangan-hidangan semacam ini adalah suatu yang sangat istimewa, nyaris waktu itu hanya ada dua organisasi keagamaan yang sangat dominant di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah, dua-duanya kalau kita masih ingat waktu itu saling berebut pengakuan dari Bapak (mantan) Presiden Soeharto Yang Terhormat, mungkin kalau itu diputar ulang kisahnya di jaman sekarang, akan terasa lucu dan asing bila suatu lembaga keagamaan meminta ‘sungkem’ pada presiden. Sekarang ini presiden macam apapun bisa digugat. Sehingga reformasi sedikit banyak membuka peluang untuk lebih lega dari sesak atas dogma dan belenggu kekuasaan.

    Apakah kebeagaman adalah suatu ancaman dalam islam?? Bagi kami ini adalah suatu pilihan, seperti contoh, di warung makan anda bisa memilih dua menu saja, soto dan gulei ayam, tapi ada warung lain yang menyediakan bukan hanya dua pilihan itu, tapi ada nasi goring, rawon dan sate madura, mana yang akan anda pilih?

    Agama Islam memang bukan hidangan makan, tapi suatu jalan hidup, kita hanya memberikan gambaan sederhana saja di sini. Tapi agama islam juga pada hakikatnya jauh dekatnya adalah suatu alternative hidup yang sebenarnya penuh pilihan. Suatu nilai yang didisain untuk manusia dan bukan untuk Tuhan, ingat itu. Inna Kholakna din al islam illa rahmatan nil’alamin”. Agama Islam kecuali adalah untuk kemanusia untuk manusia, dan untuk bumi ini sendiri, nyatanya yang butuh menyembah dan mencintai Tuhan adalah diri kita sendiri, karena Allah maha kuasa (al Ghany), maka Ia sama sekali tidak membutuhkan kita apapun termasuk sholat kita.

    “Ya Ayyuhannas, antumul fuqarau ilaAllah, wAllahu huwal khamidul Khamid, Iyas’yudhibkum waya’ti bi kholkin Jadit”
    Manusia oh manusia, kamulah yang sesungguhnya miskin di hadapan Allah, Allah Maha Kaya sama sekali tidak membutuhkan apa-apa darimu, sekiranya Ia menghendaki maka dimusnahkan kamu semua, dan diganti dengan mkhluk yang baru, bagi Allah itu sangatlah mudah.
    Maksud ayat ini kiranya sangat jelas, bahwa agama diciptakan untuk manusia dan bukan untuk  ‘kebutuhan’ Tuhan. Sungguh benar-benar salah bila sekelompok orang mengupayakan diri untuk menghujat kelompok lain atas nama pembelaan Agama dan bahkan Tuhan.