Kamis, 10 Februari 2011

Buletin Jumat BISIKAN (GAY WHISPER'S) Vol.1. no.5. KESEMPURNAAN (Memandang Dari Sudut Berbeda)

“KESEMPURNAAN” (vol.1, no.5. Minggu ke-2, Februari 2011)
Memandang Dari Sudut Berbeda.
Free Download PDF (bahasa Indonesia):
Free Download PDF (English version)
Free Download More Edition/ Gratis Edisi Lengkap :



…dan melanggarlah Adam kepada Tuhan dan tersalahlah ia. kemudian Tuhannya memilihnya. Maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu nasihat daripada-Ku, lalu Barangsiapa yang mengikut nasihat-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”
(At Thoha 121-123)
1. Kesempurnaan (di dunia) dengan meninggalkan Kesempurnaan (di surga)
Selamat datang di dunia ini kawan, tempat kita dilahirkan, bermain, belajar, mencintai, mencari nafka, beribadah dengan khusuk, membangun biduk rumah tangga, berjuang dalam masyarakat dan lalu diwafatkan kita dalam damai.

Selamat datang di dunia ini kawan, tempat kita dilahirkan (sebagai homo), bermain (dalam homo), belajar (beserta kehomoan), mencintai (dengan homo), mencari nafkah (bersama kehomoan), beribadah dengan khusuk (berusaha membuang kehomoan), membangun biduk rumah tangga (menyembunyikan kehomoan), berjuang dalam masyarakat (menolak kehomoan), dan lalu diwafatkannya kita  dalam damai (beserta rahasia kehomoan kita yang ikut terkubur).

Dulu, Tuhan sengaja menciptakan “buah kuldi” untuk menciptakan larangan bagi Adam dan Hawa di surganya, tempat yang sempurna itu nyatanya telah menciptakan suatu larangan, dan  Tuhan pun telah menggariskan nasib bahwa Adam dan Hawa akan mencuri-curi kesempatan untuk “memetik” dan “memakan” buah di surga yang “sempurna” itu. Lalu Tuhanpun  memberi peringatan keras walau akhirnya  memberi pengampunan. Hingga pada gilirannya Ia “menurunkan” sepasang kekasih itu ke dunia. Bumi ini kawan, dunia yang diciptakan untuk Adam dan Hawa serta semua keturunannya. Yang tidak seperti di surga dimana nasi goreng, bakso, mie ayam, rujak, Junkfood dan semua keinginan langsung tersedia begitu saja di hadapan saat kita baru memikirkannya dalam otak, di Bumi ini kita harus berusaha untuk mendapatkan apapun (kecuali udara dan hangat mentari). Terkisahlah bahwa Adam dan Hawa ”turun” di bumi ini secara terpisah, lalu perlu ”ratusan” bahkan ”ribuan” tahun untuk bertemu kembali, ”ratusan hingga ribuah tahun” dalam suatu kesunyian, kehampaan, ketakutan, kepedihan dan juga kerinduan yang luar biasa. Inilah cerita ”ketidak sempurnaan” semua leluhur umat manusia, salah satu manusia sempurna yang tersebut dalam Qur’an, yang memiliki ketabahan luar biasa dan kekuatan untuk mampu bersahabat (bukan menundukkan atau menaklukkan) dengan alam bumi yang keras dan tidak selalu sempurna bagi keinginan manusia. Karenanya ”surga yang sempurna telah menciptakan ketidak sempurnaannya melalui ”buah quldi” untuk menyempurnakan Adam dan Hawa dengan turun ke dunia”.


Bumi ini walaupun keras sesungguhnya sangat istimewa, atmosfir, tanahnya, airnya, iklimnya, struktur kehidupannya, proses evolusi-revolusi bumi-matahari, jarak dengan masing-masing objek di sekitar bumi semuanya benar-benar sangat istimewa bagi kehidupan yang sempurna, sampai sekarang ”belum” ditemukan tempat yang lebih sempurna seperti bumi di radius ratusan juta kecepatan cahaya dari bumi ini. Lalu lihatlah manusia, bedakan ia dengan binatang, tubuhnya yang ”indah”, dipedalnya (berdiri diatas dua kaki dengan sempurna), proporsi otaknya, umurnya, proses kelahiran dan perkembangannya, dan terutama kecerdasan dengan nilai-nilai yang ia lahirkan di dunia ini, ”belum ada” satupun makhluk lain selama 12 milyar tahun umur bumi ini yang meninggalkan jejak hasil kecerdasan semacam ini.  Suatu saat kita sempat befikir bahwa ”kita seperti makhluk luar angkasa yang sedang mengunjungi suatu tempat asing yaitu Bumi”.

Bumi yang sebenarnya sempurna dan manusia yang sempurna, namun cuma ”nyaris”. Ketika alam mengambil bagian dalam hidup kita melalui proses alaminya, dan manusia merasa mampu merekayasa proses ini, maka lahirlah bencana (Yunus, 33).  Penderitaan manusia adalah nyaris karena murni kesalahanny sendiri: merusak hutan-hutan untuk dijadikan vila, menutupi lahan dengan blok dan membuang sampah misalnya, telah menciptakan banjir. Membangun pemukiman di tempat rawan (longsor, tsunami, aktivitas vulkanik) mengakibatkan korban lebih banyak lagi, merusak habitat dan memburu spesies khusus, mengakibatkan wabah hama, wabah penyakit, gagal panen, harga makanan mahal, menghancurkan ketertiban sosial. Dan sebab bencana paling utama bagi Bumi yang istimewa ini adalah apa yang disebut kepongahan ”hati” dan ”otak” manusia, yang menuntut adanya pengorbanan besar-besaran planet bumi dan kehidupan lainnya.

Dan Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, Sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diutamakan (As Syura’:  41-43)
2. Kehidupan Dunia dengan (Mitos) ”Kesempurnaan”
Nilai kita sebenarnya sering hanya ”pencitraan surgawi” belaka, ”citra” telah menciptakan sinyal permintaan mahal akan bahan mineral: emas, perak perunggu, yang diburu dengan menggerogoti bumi, 1 gram emas untuk 100.000 gram tanah yang terbuang, untuk bergalom-galon merkuri atau cairan lain yang dilepaskan ke lama, merusak ekosistem, menggusur nilai-nilai masyarakat lokal. Semua itu demi ”emas” dan lain-lain, gaya hidup kita (demi keanggunan dan kemewahan). Imajinasi kita tentang surga ”yang disalah pahami” telah serta merta menciptakan misalnya: rumah ”surgawi” dari porselin yang berasal dari gunung yang ”dipotong”,  mobil dari baja mengkilat hasil pertambangan di pesisir yang menggusur nelayan dan merusak ekosistem, makanan di restoran ”surgawi” yang bahan-bahannya didatangkan beribu-ribu mil (menambah beban limbah fosil) dengan melakukan kekerasan nyata terhadap binatang, membeli sebuah ”tekhnologi” untuk gengsi sesaat lalu dibuang saat yang ”lebih baru” muncul di pasar, membeli celana dalam atau suplemen ini dan itu untuk menjadi seperti ”tubuh-tubuh surgawi”, menjadi ”orang lain” seperti ”Beckham” atau bintang film, model atau  idola lain, sementara justru terasing terhadap dirinya dan cintanya. Atau  juragan yang ingin meraih ”kesalehan surgawi” dengan haji berkali-kali sementara buruhnya digaji rendah, politikus yang ”adil-surgawi” dengan slogan  ”pilihlah ini yang ”demokratis” maka rakyat akan makmur, coblos no xxx”. Semua jatuh dalam mitos ”surgawi” : Kecantikan, Ketampanan, Kejantanan, Kekayaan, Kekuasaan, Kesalehan, Kesehatan, Pendidikan, dan semua yang dituntut dari mitos masyarakat komersil. Adalah ”cinta yang sesungguhnya buta”, adalah ”cinta yang gila” dan ”cinta yang terlarang dan cacat” serta ”cinta yang wajib dikritik !”, adalah penafsiran ”surgawi” yang disalah artikan.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasanganmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Ar Rum: 21).
3. Keluarga Yang ”Sempurna” di Dunia (yang nyaris) Sempurna.
Keluarga yang sempurna adalah kiranya sesuai anjuran ”sunnah nabi”, bapak bekerja dengan penghasilan ”lumayan”, ibu juga kerja (kalau bisa kerja di rumah), anak belajar di sekolah favorit dan memiliki waktu bemain yang ”berkualitas”. Keluarga yang sepurna adalah yang tidak selingkuh, rajin ikut pengajian komplek, serta ikut program KB, dua anak cukup. Kalau ada diluar itu ya betapa tidak beruntungnya, mungkin diluar moral umum.

Moralitas adalah suatu nilai yang dibentuk oleh masyarakat melalui kesepakatan hasil kemenangan sejarah dalam suatu pertarungan pemahaman. Walaupun demikian  selalu saja meninggalkan jejak ketidak sempurnaan sebagaimana sifat dari dunia ini, seperti keluarga-keluarga di dalam komplek perumahan yang dijaga satpam misalnya, menciptakan lingkungan dan pola nilai sendiri yang akhirnya membatasi pergaulan pada lingkungan sangat terbatas dan eksklusif, contoh lain pada suatu desa dan kelurahan, memiliki perbedaan sendiri dalam mengakomodir keluarga di lingkungan masyarakatnya masing-masing yang tentu tidak dapat diterapkan secara silang. Demikian pula keluarga yang hidup nyaris tanpa ”masyarakat”, tinggal di vila, apartemen dan hotel-hotel, keluarga yang terpisah-pisah secara geografis karena tuntutan tertentu, atau keluarga yang terpisah karena retaknya suatu komitmen antara suami-istri adalah sebuah kenyataan nilai keluarga yang tidak pernah bisa ditutupi dan tidak akan bisa terbantah. Dari sini keluarga nyatanya bukanlah melulu tuntutan moral komunal namun sangat tergantung dari suatu keadaan internal dan pilihan.

Bagaimana dengan nasib ”keluarga” homoseksual? Ada ”keluarga” kelas atas yang terdiri dari suami dan suami serta beberapa binatang peliharaan, di sebuah vila atau komplek perumahan yang relatif tertutup, ada ”keluarga” kelas menengah yang terdiri dari suami dan suami yang tinggal di apartemen yang masing-masing pasangan punya kesibukan sendiri-sendiri di siang hari dan mengakhiri kegiatan seharian yang melelahkan dengan bercengkrama dalam sebuah ruangan yang nyaman ber AC sambil melihat tv flat, ada ”keluarga” homoseks kelas bawah yang tinggal di sepetak kamar kos-kosan dengan perabotan berjubel, ada pula yang memisahkan diri dan punya tempat masing-masing, juga ada yang masih dengan keluarga besarnya masing-masing.

Sebagaimana di sebagaian wilayah negara berkembang yang masih membangun identitasnya melalui kontrol sosialnya dengan dominasi moral mayoritas. Keluarga homoseksual seringkali menjadi suatu pilihan yang ”konyol” dan ”gila”. Memang sangat tidak bisa dipungkiri bahwa hal ini erat hubungannya dengan latar belakang tuntutan urutan prioritas pada suatu negara. Di Indonesia terutama, hak asasi manusia masih berkutat pada masalah ”bagaimana warganya bisa makan hari ini”, bagaimana anak-anak bisa masuk sekolah hingga tingkat menengah pertama (itupun masih berat), bagaimana orang miskin bisa menjangkau biaya kesehatan, bagaimana pemahaman keagamaan bisa sedikit lebih terbuka akan dialog antar agama, bagaimana kehidupan politik bisa memunculkan ”piala bergulir” atau minimal tidak dikuasai hanya oleh satu komponen tertentu, masalah banjir, kekeringan, penanganan bencana, kekerasan rumah tangga, peranan wanita dan seabrek masalah lainnya.

Minoritas keluarga homoseksual harus berbesar jiwa untuk menerima kenyataan ini, sambil tetap sabar dan setidaknya ikut sedikit terlibat dalam masalah-masalah bangsa tersebut, yang masih berkepanjangan dan sering kali terkait satu dengan yang lain. Bisa jadi bagi kalangan homoseksual dari kalangan atas dan terdidik dengan keluarga yang lebih terbuka mampu untuk sekali dua kali berpesta pora sebulan sekali, tapi belajarlah untuk sedikit lebih peka, bahwa di luar sana masih banyak yang lebih menderita.

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan……(al Hajj:22)
4. Kesempurnaan dalam Ketidak Sempurnaan.

Tuhan tidak akan pernah mengatakan bahwa dunia kelak akan menjadi surga, islam telah menegaskan akan datang suatu masa dimana dunia seisinya akan hancur luluh lantak dan musnah, hingga manusia dibariskan semuanya setelahnya, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ketidak sempurnaan adalah ciri dari dunia ini. Allah Swt tidak akan pernah mengubah semua orang menjadi muslim, Allah tidak akan menasibkan semua manusia menjadi kaya, Allah Swt tidak pernah mengubah semua orang menjadi pintar atau menjadi sholeh.  Tapi Allah Swt menganjurkan untuk berbagi dan saling menghormati. Ini adalah tentang hukum dunia yang haus disadari dan diterima oleh siapapun dengan tulus dan berfikiran terbuka.

Penafsiran yang salah tentang dunia, dan juga tentang akhirat (surga) sering kali merusak hukum bumi ini sendiri (sunnatullah). Kebenaran hanya dipahami sebagai suatu paket sempit antara ”benar” dan ”sesat”, roshulpun tidak pernah mengkafirkan ahli kitab selama mereka tidak mengancam masyarakat muslim (Ali Imron: 113), roshul juga memiliki perjanjian dan persaudaraan dengan para ahli kitab dan sama sekali tidak tebesit untuk memerangi atau bahkan memusnahkan. Justru hal ini dimulai saat nabi telah wafat dimana agama jatuh dalam kafir mengkafirkan, sesuatu yang sangat dibenci oleh nabi Muhammad Saw. Peperangan antar aliran telah melahirkan pengkafiran diluar golongan, pemusnahan satu kelompok oleh kelompok lain, dan pengabaian satu pemikiran terhadap pemikiran yang lebih dominan. Dari sinilah muncul ide sufisme, satu aliran esetoris (mistis) yang menggabungkan antara Cinta dan Keimanan. ”Sembahlah Tuhan karena wujud dari keikhlasan akan cinta (lillahita’ala), jangan karena kita ingin dianggap sholeh, jangan karena takut neraka atau menginginkan surga, mencintai Tuhan hanya semata-mata untuk menemukan Cinta-Nya.

Adalah sebuah kewajaran bila terjadi konflik diawal berdirinya masyarakat atau peradaban apapun temasuk islam waktu itu, dan selalu ada penengah semisal  sufisme awal islam, yang telah membangun jembatan antar golongan yang bertikai. Walaupun demikian sufisme bukanlah kenabian, ia hanya suatu aliran penafsiran keagamaan yang bisa juga jatuh dalam stagnasi pemikiran. Pada ujung dominasi masyarakat islam, sejarah sufisme serta aliran-aliran fiqih islam akhirnya dipisahkan oleh jurang yang dalam dengan kehidupan sehari-hari serta ilmu pengetahuan, maka jaman kegelapan dan kemunduran masyarakat islam itu datang.

Kenyataanya, kehidupan sehari-hari manusia akan selalu terbuka terhadap penemuan-penemuan baru, setiap penemuan sedikit banyak mempengaruhi cara berfikir manusia tentang ajaran Tuhan, lampu pijar membuat manusia menyusun kembali makna ”waktu siang untuk bekerja dan malam untuk istirahat” (Furqon: 47), tidak harus seperti itu arti katanya, penemuan listrik membuat manusia berfikir, mengapa ”api, tanah dan air dilarang untuk dijual secara pribadi” (al Hadits), ini tentang energi bagi maslahah umat, penemuan mesin uap, membuat manusia membaharui makna dari batas jarak mengkodlo’ dan menjama’ sholat, penemuan mesin cetak mempengaruhi arti dari ”tinta” (al Kahfi: 109) dalam ayat al Quran. Dalam penemuan ilmu sosial, nilai persamaan hak telah membebaskan perbudakan dan penjajahan serta runtuhnya lingkungan feodal di barat dan di timur, sehingga pemaknaan budak tidak berlaku lagi dalam penafsiran islam kekinian. Demokrasi yang merupakan hak yang sama bagi rakyat untuk menuntut pemerintahan yang adil, merubah makna pemimpin yang adil dan arti dai ”khilafah wa rosyidin” (Syaad: 26). Persamaan hak minoritas dalam masyarakat islam menuntut adanya penghapusan jiz’ah sama halnya dengan penghapusan penjajahan dan perbudakan, penafsian tentang wanita telah berubah sejak munculnya ide keadilan elasi laki-laki-wanita, bahkan bunga bank bisa dimaknai asal tidak mengikat yang tertanggung hutang dengan transaksi transparan serta adil, maslahah mursalah.

Kesempurnaan bagi penafsiran ayat adalah suatu yang tidak dituntut oleh Rashulullah, namun memang bagi kelompok tertentu suatu penafsiran yang berubah akan menghancurkan ”kemapanan dan kedamaian keyakinan” yang telah mereka miliki dan mendarah daging. Tidak ada salahnya kita mengkritik ”penafsiran kesempurnaan duniawi” yang dihembuskan oleh media komersil dan informasi, pula tidak ada keharaman untuk mengkritik penafsiran agama kita yang mungkin memang harus beradaptasi dengan ”kenyataan ilmu pengetahuan”. Islam menegaskan berkali-kali akan adanya keseimbangan dan keharmonisan antara hukum alam ini dengan hukum Allah, pada batasan yang bisa ditoleransi, iman kita justru lebih mudah digapai bukan melalui fiqih atau sufisme, tapi dengan melihat kenyataan yang terjadi di kehidupan sehari-hari kita (al Baqaroh: 26). Jadi sejak kapankah menafsirkan sendiri dengan pertimbangan asas manfaat individu dan terutama kelompok minoritas itu dilarang? Tidak pernah ada dalam al Quran dan Hadits yang shahih.

Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan Dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus? (an Nahl:  76)
5. Masa depan Individu Gay, Keluarga Homoseksual dan Golongan Minoritas Gay / LBGT

Dengan semua ketidak sempurnaan itu. Di Indonesia, minoritas sebagai individu memang tidak dipermasalahkan, namun tidak dalam konteks moral umum. Semisal, waria relatif bisa diteloren bila  bekerja di salon, tapi akan sangat sulit mengakui waria dalam konteks pengakuan hak-hak hukum sipil, tidak akan diakui jenis kelamin yang diubah menjadi wanita apalagi ada pengakuan kelamin ke-3, lebih mengenaskan lagi waria dalam posisi pengakuan agama, yang sama sekali tidak diakui keberadaannya (lebih parah dari hukum klasik islam yang masih mengakui khunsa). Contoh lain: Pelacuran tidak pernah diakui secara legal, namun pemerintah mengakomodir serta menteloransi bahwa tempat pelacuran tidak dihancurkan, pelacurnya tidak ditangkap  dan pelanggan tidak dihukum.

Gay dan LBGT di Indonesia memang relatif tidak memiliki banyak masalah, kecuali dengan catatan khusus namun komplek, kehidupan seksual mereka di kamar pribadi relatif sangat aman, tapi ekspresi ditempat umum sangat terbatas, bukan hanya tabu dan dibatasi oleh negara, namun ditekan oleh keyakinan yang tertanan kuat dalam individu masing-masing, posisi tawar menawar relasi pasangan Gay juga sangat lemah, dan tingkat pengorganisasian bahkan ditentang keras oleh beberapa pihak dengan mengatas namakan agama mayoritas (islam). Kondisi ini telah mendorong perilaku Gay hanya terbatas diranjang, dan terjatuh dalam pemuasan nafsu belaka, kelompok gay dan minoritas lain hanya akan menemukan ekspesi birahi dan sulit menemukan ekspresi cinta (melalui penerimaan / keramahan nilai-nilai sosial) apalagi ekspresi sosial (melalui pengoganisasian dan perlindungan hukum), jadi ada benarnya bila sebagian gay mengatakan ”cinta gay hanya nafsu tubuh dan orgasme”, walau ini merupakan ekspresi dari tekanan sosial dan tekanan individu.

Kita hanya mampu berbuat sejauh yang kita bisa, mengusahakan ”kesempurnaan manusiawi”: menjadi Homo yang baik (melalui penerimaan pribadi dan menyayangi pasangan kita), menjaga sikap pribadi kita di lingkungan keluarga dan masyarakat (baik belum atau sudah coming out / terbuka), menjadi warga Indonesia yang setidaknya berempati terhadap penderitaan yang sedang membelenggu bangsa dan negaranya, merempati terhadap usaha-usaha konsulidasi komunitas marjinal (LBGT dll), menjadi muslim yang berusaha  untuk terus taat (walau kadang naik-turun) dan mampu untuk terus belajarkan menggambarkan Sang Penciptanya tidak seotoriter seperti negara atau politikus ”gombal” namun Tuhan Yang Maha Penyayang.

Wallahua’lam

Tidak ada komentar: