\
MENYAPA DENGAN CARA GEMBIRA (vol.1, no.4. )
Free Download PDF (bahasa Indonesia):
Free Download PDF (English version)
Free Download More Edition :
I. Islam dan keberagaman.
Kita akhir-akhir ini sering terheran-heran dan canggung melihat islam di Indonesia terutama di wilayah perkotaan dipenuhi dengan semangat keislaman yang sangat menggebu-gebu. Di lain pihak ketersinggungan negeri ini dengan kebudayaan di luar sana menambah cita rasa ke-Indonesiaan kita menjadi sangat “nendang dan nyuss”. Bebeapa kalangan diantara kita sungguh-sungguh mengusung agenda kebebasan pemikiran dalam islam (yang memang telah ada sejak lama di dunia islam, ingat mu’tazillah), yang lainnya mengajak untuk ‘kembali’ ke otentitak (sesuatu yang juga ada sezaman dengan mu’tazillah, diabad awal islam).
Dahulu kala ketika Indonesia hanya mengenal TVRI dan TPI, hidangan-hidangan semacam ini adalah suatu yang sangat istimewa, nyaris waktu itu hanya ada dua organisasi keagamaan yang sangat dominant di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah, dua-duanya kalau kita masih ingat waktu itu saling berebut pengakuan dari Bapak (mantan) Presiden Soeharto Yang Terhormat, mungkin kalau itu diputar ulang kisahnya di jaman sekarang, akan terasa lucu dan asing bila suatu lembaga keagamaan meminta ‘sungkem’ pada presiden. Sekarang ini presiden macam apapun bisa digugat. Sehingga reformasi sedikit banyak membuka peluang untuk lebih lega dari sesak atas dogma dan belenggu kekuasaan.
Apakah kebeagaman adalah suatu ancaman dalam islam?? Bagi kami ini adalah suatu pilihan, seperti contoh, di warung makan anda bisa memilih dua menu saja, soto dan gulei ayam, tapi ada warung lain yang menyediakan bukan hanya dua pilihan itu, tapi ada nasi goring, rawon dan sate madura, mana yang akan anda pilih?
Agama Islam memang bukan hidangan makan, tapi suatu jalan hidup, kita hanya memberikan gambaan sederhana saja di sini. Tapi agama islam juga pada hakikatnya jauh dekatnya adalah suatu alternative hidup yang sebenarnya penuh pilihan. Suatu nilai yang didisain untuk manusia dan bukan untuk Tuhan, ingat itu. “Inna Kholakna din al islam illa rahmatan nil’alamin”. Agama Islam kecuali adalah untuk kemanusia untuk manusia, dan untuk bumi ini sendiri, nyatanya yang butuh menyembah dan mencintai Tuhan adalah diri kita sendiri, karena Allah maha kuasa (al Ghany), maka Ia sama sekali tidak membutuhkan kita apapun termasuk sholat kita.
“Ya Ayyuhannas, antumul fuqarau ilaAllah, wAllahu huwal khamidul Khamid, Iyas’yudhibkum waya’ti bi kholkin Jadit”
Manusia oh manusia, kamulah yang sesungguhnya miskin di hadapan Allah, Allah Maha Kaya sama sekali tidak membutuhkan apa-apa darimu, sekiranya Ia menghendaki maka dimusnahkan kamu semua, dan diganti dengan mkhluk yang baru, bagi Allah itu sangatlah mudah.
Maksud ayat ini kiranya sangat jelas, bahwa agama diciptakan untuk manusia dan bukan untuk ‘kebutuhan’ Tuhan. Sungguh benar-benar salah bila sekelompok orang mengupayakan diri untuk menghujat kelompok lain atas nama pembelaan Agama dan bahkan Tuhan.
Kalau Tuhan al al Ghani (Maha Berdikari) lalu dengan penafsiran sendiri seseorang mengatasnamakan Tuhan dengan menghancurkan hak setiap orang untuk memilih jalan hidupnya masing-masing apakah itu bertentangan dengan prinsip Rakhmatan Lil’alamin?
Sekali lagi rashulullah berkali-kali mengatakan bahwa ia hanya pembawa kabar gembira dan menyampaikan pesan. Bukan untuk memaksakan kehendak dan merusaki atas nama penafsirannya sendiri.
Mentang-mentang telah diwadahi oleh lingkungan mayoritas lalu memberangus minoritas, sunni (aliran islam) di Mesir memberangus Syi’ah (aliran minoritas islam di negeri itu), Syi’ah di Iran, membelenggu Sunni di negerinya, Pakistan memerangi penyebaran syiah di negerinya, Indonesia mengkafirkan Syi’ah dan Ahmadiyah. Seolah-olah mereka itu telah mendapatkan restu dari Tuhan. Begitu gelapnya gambaran islam semacam ini.
Tidakkan semua sadar bahwa setiap kata dalam al Qur’an bisa ditafsirkan masing-masing sesuai kenyataan dan konteksnya, bahkan sesuai dengan kecocokan setiap pembacanya. Itu mengapa hampir semua ijtihad misalnya yang paling umum di Indonesia: madzhab arba’ah (imam empat dalam aliran sunni) berbeda masing-masing hujjahnya (produk hukumnya), missal dalam hal aurat laki-laki: hanafi mengatakan hanya dubur dan qubul tapi syafi’I mengatakan diatas paha dan di bawah udel. Dan itu diterima saja pada waktu itu. Contoh lain: Ulama’ Hijaz yang tekstualis menghormati ulama’ Basrah yang kontekstualis. Kenyataannya dengan cara-cara itu Islam penah bejaya di semenanjung Iberia (Spanyol), orang islam, Kristen dan Yahudi duduk bersama dalam halakoh (sidang) yang semi formal terbuka, dan akrab untuk membicaakan masalah moral negara dan masalah-masalah kemanusiaan sepeti wabah penyakit dan kemiskinan waktu itu. Dan semenanjung Iberia kemudian menjadi satu wilayah yang sangat makmur.
Pun, ketika Islam datang di Jawa, wali songo bahkan mengakomodir keberadaan ajaran Mahabarata yang otentik hindu lalu menyampaikannya untuk memuat nilai-nilai islam. Dakwah semacam itu terbukti sangat efektif dalam menarik banyak umat untuk menekuni islam.
Sungguh, ketika agama sudah masuk dalam kredo murni dan tidak murni, golongan yang paling bena dan yang lain salah, hal ini berakibat fatal pada justifikasi pembenaran agama atau keyakinan masing-masing. Umat dibingungkan dengan arti bit’ah, padahal bit’ah sendiri ada yang khasanah (sesuatu yang baik). Umat dibingungkan oleh kemurnian islam, padahal di Arab sendiri ada beragam aliran Islam bahkan sejak rashul mulai wafat, islam berjumlah banyak.
Adalah kesalahan fatal bila satu golongan merasa yang paling otentik dari golongan lain. Bukannya perbedaan adalah sesuatu yang alamiah, dan memang sudah dikehendaki oleh yang di atas, ada hadits mengatakan “akan terpecah 73 golongan salah satu yang tebaik adalah ahlu sunnah waljama’ah” idiom ini disalah pahami, hanya ada satu golongan yang benar, padahal yang dimaksud diatas, ya asal mengikuti al Qur’an baik dalam pilihan tekstual atau kontekstual, tapi asal bersatu atau berjamaah atau saling bersaudara ya bakal selamat fid dunya wal akhiat..
II. Gay Dan Keagaman dalam Islam
Kiranya mari kita saling menghomati perbedaan masing-masing. Anda memiliki orientasi cinta yang berbeda adalah karena Sunnatullah, belajarlah menerima dan memahami bahwa sebagian dari diri anda adalah minoritas atau special dan tidak seperti yang lainnya, Allah tentunya memahami alasan-alasan anda. Bukan dengan itu anda menolaknya dan berusaha membenci diri anda sendiri, tapi sedikit banyak tetap melakukannya karena tidak berdaya menolaknya, atau anda membencinya padahal benci adalah cinta yang terpantulkan, atau anda cuek atas semua yang anda miliki ini sambil ikut menghujat ke-Gay-an di depan orang lain, selama orang lain tak tahu anda.
Anda boleh menafsirkan kalau yang dikutuk dalam kisah nabi Luth adalah perilaku homo (tafsir mayoritas), tapi anda juga berhak menafsirkan bahwa yang dikutuk adalah perbuatan zina seatu golongan sementara mereka semua memiliki istri wanita, jadi bagi kami mau seseorang homo mau hetero asal zina ya pastilah menyalahi aturan agama dan juga aturan sosial tentunya. Silahkan anda memilih hidangan diatas, tapi jangan belajar untuk menghujat mana yang benar dan mana yang salah.
Hormatilah setiap penafsian. bukankah akan lebih senang ketika cek in hotel, lalu ada pilihan untuk anda, mau tipe yang biasa dan atau tipe suite. Perbedaan adalah sunnatullah, dan kita semua tahu itu.
Semoga ceramah jum’at ini membuka fikiran kita bahwa kita semua makhluk Allah yang tidak berdaya dan selalu membutuhkan cintanya melalui cinta yang kita berikan untuknya.
Tetaplah sholat, tetaplah berbuat baik, setialah dengan pasangan anda. Semoga Allah memberikan kita jalan terbaik, untuk diri kita dan semua yang mencintai kita.
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar