Beribadah dan Kerja
(Homoseksual yang tetap beribadah)
Free Download PDF (english version):
Free Download PDF / Gratis format buku (PDF) (bahasa Indonesia)
Free Download More Edition / Edisi lebih lengkap :
Web Blog GII:
Our Forum-Web / Diskusi Web Kita:
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa (Al Baqaarah (2) : 177).
1. Selalu Belajar Meng-Esa kan Ia Saja.
Alloh Swt, adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah, Tidak ada Tuhan selain Dia. Kata-kata kredo (semboyan) awal ini memang begitu sederhana, siapapun bisa mengucapkannya dan memahami maksud kata-katanya, terutama umat muslim pada semua tingkatan. Tegasnya adalah Tuhan kita Alloh Swt, yang memiliki Sembilan puluh Sembilan nama lainnya yang indah (asmaul husna) diantaranya : Sang Pengasih (Ar Rahman), Sang Penyayang (Ar Rahim), Sang Raja (Al Malik), Sang Suci (Al Quds), Sang Damai (As Salam), dan yang hanya satu-satunya memiliki dua puluh sifat keTuhanan, diantaranya : Yang Paling Sejati (Wujud), Yang Maha Awal (Qidam), Yang Paling Abadi (Baqo’), Maha Bediri Sendiri (Qiyamuhi Bi Nafs) adalah satu-satunya sumber agung dari kehidupan manusia, Sejak seseorang dilahirkan, masa kanak, masa belajar, masa dewasa, masa tua dan saat di akhirat.
Bahwa sering kali dunia ini mencoba memisahkan kita dari sumber Maha Agung itu, namun seiring dengan waktu, selalu saja Ia lah satu-satunya Sang Hakikat yang membuat jalan bagi kita untuk selalu tetap dekat pada-Nya, bisa dengan anugrah atau sering kali dengan suatu factor “X” (mis: musibah dan bencana), sesuatu yang tidak kita sangka-sangka, yang menggerakkan jiwa dan raga kita untuk menemukan “kepulangan” pada Wujud Hakikat Yang Maha Abadi. Bahwa dunia yang terlalu silau seperti lampu gemerlap diskotik, makanan yang dihidangkan bermacam-macam, senggama dengan tubuh dan wajah indah dengan bermacam gaya, kekasih yang hilir mudik datang untuk pergi, cinta yang menciptakan kerinduan, perjumpaan dan kesetiaan, kesuksesan dan kejayaan, bertumpuk-tumpuk harta dan kemewahan, beraneka pertunjukan dalam hidup, sesunggunya kesemuanya pada akhirnya tidak akan bisa menggantikan sesuatu yang paling bermakna, Sang Maha Hakikat, suatu sebab permulaan dari segala penciptaan, hakikat asal dari jiwa semua manusia, dan ketika “tempat” itu tak terisi untuk “Ia”, maka yang muncul adalah kehampaan dan keterasingan, pernah anda merasakanya?
2. Agama adalah Perbuatan.
Islam sebagai suatu keyakinan adalah nilai yang seharusnya tidak terhenti hanya pada tataran “penglihatan dangkal” akan ke-Esa-an-Nya, nyaris semua orang bisa memahami secara “luar” tentang misi Islam sebagai agama Tauhid (keEsaan), seperti juga semua orang Indonesia hafal dengan bunyi sila ke-1 Pancasila sebagai sumber segala hukum : Ketuhanan Yang Maha Esa, namun sering kali tidak termanifestasi dalam kehidupan keseharian. Gambaran keseharian yang membosankan: pribadi yang selalu gelisah dan “kehausan”, keluarga yang penuh “kehampaan”, masyarakat yang saling “mengasingkan”, negara yang selalu “mengecewakan”, dunia yang “sulit dipahami”, kesemuanya dalam kehidupan individu kita telah menyebarkan aura (nur) yang negatif pada kehidupan yang kita lalui ini. Padahal di dunia ini, kita semua hidup tidaklah lama, dan Islam kita dengan ibadah-ibadah yang kita lakukan: Sholat, Puasa, Zakat, dan Haji, seolah menjadi tidak berguna bagi kehidupan semacam itu, kehidupan sehari-hari kita tadi.
Bahwa Sholat yang juga merupakan intisari dari peninggalan agama-agama sebelumnya (termasuk Kristen Timur –Suryani- ), hanya dimaknai sebagai kewajiban yang sebagian besar malah diingkari, padahal sholat ini merupakan latihan harian untuk menjaga diantaranya: cinta pada Tuhan dan cinta pada diri sendiri, sholat mengajak kita untuk teratur dalam menjalani hidup, hanya 5 waktu dalam sehari, kesemuanya mungkin tak lebih dari setengah jam saja, sementara Tuhan setidaknya telah memberi selama 24 jam nafas dan mencukupi secara gratis oksigen (sesuatu yang belum kita jumpai di luar sana, di alam semesta yang luas). Sementara sehabis sholat orang-orang masih bergunjing: “Ih kok Tuhan begini sih-begitu sih!”, “Ih hari yang membosankan, hari sial!”, “ Singkirkan saja mereka!”, “dia nggak sholat, dia kafir, masuk neraka!” Lalu apa gunanya sholat kawan? Sesungguhnya sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar (Al ‘Ankabuut (29) : 45), dari sholat yang sungguh-sunggu, maka cinta manusia terbentuk, cinta pada keadilan dan tidak suka menindas orang lain, karena sholat belajar untuk menerima kenyataan bahwa hakikatnya kita semua adalah hamba yang sama derajatnya. Dari sholat pula manusia menjadi lebih disiplin, karena merupakan ibadah “perayaan akan waktu”, dimana waktu adalah anugrah-Nya yang teragung (karya yang sangat rumit menurut para fisikawan) yang seharusnya sangat-sangat dihargai, sholat membuat kita belajar hidup dengan menyadari ritme perubahan di alam ini, merayakan apa yang disebut “kekuatan sekarang” (the power of now), “lakukan saat ini!, jangan terhanyut oleh masa lalu dan ketakutan masa depan”.
Zakat, (konsep yang hampir dimiliki semua agama-agama besar dunia), di Islam yang diwajibkan hanya 2,5 kg beras selama setahun, dan 2,5 % harta kita selama setahun (bila telah memenuhi nisob /takaran). Adalah latihan kita untuk berempati pada saudara-saudara kita yang lain. Diwajibkan untuk setiap muslim sebisanya meraih kesejahteraan, tapi janganlah lupa bahwa sesama muslim adalah saudara, dan sesama manusia adalah keluarga besar nabi Adam termasuk semua orang-orang miskin, jadi janganlah lupa untuk berbagi, diantaranya melalui zakat. Memang zakat tidak sebanyak pajak negara, tapi penggunaan yang efektif sangat membantu orang-orang yang tak berdaya untuk berdiri dan lebih mandiri, oleh karenanya disunahkan menyalurkana zakat (terutama zakat mal) melalui panitia zakat (amil) agar penggunaanya efektif untuk mendaya gunakan kaum dhuafa’. Lalu apa imbal balik pemberian itu pada diri kita? Adalah rasa empati, bagian dari nilai tauhid islam. Empati adalah makna indah yang membedakan antara manusia dan binatang, jika binatang eksis melalui seleksi alam dan kompetisi (?), maka manusia sesungguhnya bertahan karena kerjasama dan saling memahami, pemahaman yang salah tentang “darwinisme” akan membuat kita seolah-oleh datang kedunia sendiri dan mati sendiri. Orang-orang kaya seolah telah berhasil dengan tangannya sendiri, padahal tidak demikian, kalau mereka bisa makan nasi, mereka harus berterimakasih pada buruh tani, kalau mereka menggunakan pakaian, mereka harus berterimakasih pada buruh pabrik tekstil, kalau mereka memiliki rumah bagus, mereka harus berterimaksih dengan kuli bangunan dan sebagainya. Sudah menjadi rahasia umum, profesi rendahan seperti buruh tani, buruh pabrik dan kuli bangunan di Indonesia dihargai tidak layak walau pekerjaan mereka sungguh berat, beben keluarga yang ditanggung juga sama beratnya, mau menuntut kenaikan, takut di PHK, dan kalau sudah di-PHK, maka ribuan lainnya akan berebut menggantikan tempatnya walau hanya berposisi buruh!, sungguh trenyuh!. Maka siapapun anda, bila memang mampu, banyaklah sedekah, bayarlah zakat. Karena kemiskinan dekat dengan kriminalitas dan kemusyrikan. Maka secara langsung ke-pelitan kita akan meninggikan ”pagar-pagar” rumah kita, dan pagar-pagar itu akan ”mengurung” kita di dalamnya, di dalam sekotak ”rumah” kita, nyamankah kita?
Puasa, adalah warisan semua nabi dan orang suci (termasuk agama abrahimik dan Vedantik), dari sini kita dilatih mengendalikan hawa dan nafsu, menemukan batas-batas diri kita. Dengan mengakui bahwa apa yang kita mampu tidak sebanyak apa yang kita butuhkan, membuat kita belajar menyederhanakan hidup ini. Melatih mengendalikan diri di bulan Ramadhan adalah kewajiban seorang muslim, menahan untuk tidak makan, minum, dan berhubungan seks sepanjang separuh hari adalah latihan untuk memahami makna ”apa yang kita inginkan tidak selalu seperti apa yang sebenarnya kita dan jiwa kita butuhkan, berlebihan itu menggagu proses alam (rakus mengeksploitasi alam), sosial (kesenjangan sosial), tubuh (kegemukan) dan jiwa (stress) kita untuk menemukan keseimbangan, memang kenyataanya selalu ada yang kurang dari hidup kita, namun kekuatan puasa mengajarkan kita untuk menyederhanakan mimpi-mimpi kita yang barangkali ”muluk-muluk”. Puasa juga memusatkan diri pada keterbatasan fisik kita, bahwa harga tertinggi dari hidup bukanlah apa yang kita miliki tapi apa yang mampu kita kendalikan untuk diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Kekuatan sebesar apapun pada saatnya akan berakhir dengan masa tua, dimana akhirnya hanya kesehatan dan kewarasan akal yang akan tetap dihargai. Puasa melatih kita di sebelas bulan yang lain untuk selalu menjaga sikap: agar tidak berlebihan, menjaga kesehatan dan akal waras, menyederhanakan ide dan konsep, mengendalikan nafsu untuk tetap dalam wilayah yang mampu dikontrol, dan bila itu belum terbentuk, berarti kita masih belum berhasil memetik nilai terdalamnya.
Haji, adalah kunjungan ke Masjidil Haram, suatu peninggalan para nabi semenjak nabi Ibrahim, merupakan ritus yang juga mengakomodir atau mirip dengan ritus agama-agama hanif (esetoris non samawi) sebelum islam, kunjungan ke masjidil haram merupakan kewajiban bagi mereka yang mampu saja, di dalamnya setiap orang menjalani semacam retret kisah nabi Ibrahim, kisah tentang perintah-perintah Tuhan yang: tidak masuk diakal seperti, perintah agar Ibrahim meninggalkan istri dan anak yang baru lahir di gurun sendiri (ritus towaf), perintah agar Ibrahim membunuh anaknya sendiri (ritus jumrah dan kurban idul adha), juga perintah Alloh Swt untuk selalu menegakkan kemurnian akal melalui dorongan perenungan diri sepanjang hari di padang luas Arafah, dalam ritus renungan kesyahduan malam di Musdalifah serta ritus perjalanan hidup melalui simbolisasi perjalanan ke Mina. Namun sering kali kegiatan ibadah yang mulia ini terjatuh dalam makna simbol saja, seperti gelar akademik yang kadang dijual murah, gelar ’H’, di Indonesia, dianggap menuntaskan kesempurnaan nama seseorang di depan banyak orang, sementara tetangga sebelah jatuh dalam hutang dan penyakit berkepanjangan, buruh-buruh di pabrik atau usaha milik si ’H’ tetap digaji rendah, masih sempat juga se ’H’ haji lagi berkali-kali. Dan lebih ironis lagi, ada cukup banyak ’H’ yang terlibat korupsi, atau banyak pula ’H’ yang menjadi sok suci, sehingga apa-apa yang dianggapnya tidak ’baik’ dihukumi bid’ah, murtad, kafir dan bodoh. Memang tidak semua ’H’ seperti itu, tapi jika ada yang sampai seperti itu, kita harus bertanya lagi apakah ’H’ yang kita emban masih memiliki makna?
Dulu, sebelum pesawat terbang ada, dan ONH tidak se-”murah” saat ini, orang berhaji biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu naik kapal laut, dan setelah hajipun, pendahulu-pendahulu kita menyempatkan belajar ilmu setidaknya satu tahun di Mekah. Ketika mereka pulang, tidak sekedar membawa gelar ”H”, namun juga menuntut konsekwensi atas ilmu yaitu dengan da’wah, mereka segera mendirikan madrasah, membangun pendidikan yang biasanya gratis, untuk rakyat kebanyakan, mengajarkan tentang islam, persamaan manusia di sisih-Nya, dan yang jelas anti penjajahan, dimana penjajahan adalah penyimpangan terhadap agama dan keimanan. Sehingga mampu mengobarkan semangat perjuangan meraih kemerdekaan. Hal yang mungkin harus direnungkan kembali, apakah Indonesia masih membutuhkan gelar ’H’ yang sering kali justru menjadi bumerang? Setidaknya jangan biarkan ”haji” kita terjatuh dalam gelar bagi orang-orang yang mengumpulkan kekayaan demi ibadah ke tanah suci sementara orang-orang disekitarnya sedang dalam kesulitan dan kesusahan, kalau yang semacam itu, apa artinya ibadah haji?
3. Mencintai Roshulullah
Siapakah Nabi Muhammad itu? Kita, umat islam percaya beliau adalah penutup dari risalah kenabian (al Ahzab (33): 40), bahkan sejak kita masuk islam, wajib bagi kita untuk bersaksi (dengan penuh keimanan) dua hal yang paling mendasar: Tuhan kita Maha Satu, yang kita menyebutnya Alloh, dan Roshul kita sebagai seorang muslim adalah Nabi Agung Muhammad. Roshululloh Muhammad Saw adalah pribadi yang sangat-sangat diagungkan dalam Islam, perkataan, perbuatan, tingkah laku, bahkan isyarat beliau sepanjang hayatnya bisa dimaknai sebagai sumber tauladan atau hadits. Bagaimana cara menunjukkan cinta pada beliau? Seperti yang kami kemukakan sebelumnya bahwa segala sesuatu dilihat melalui perbuatannya, misalnya: apakah roshul pernah membenci seseorang karena orang tersebut non muslim, tentu tidak, roshul hanya membela orang-orang yang memang membela hak-haknya, ingat bahwa perjanjian udaibiyah pada dasarnya menunjukkan hal tesebut, setiap orang dilindungi, apapun tanpa terkecuali, cara-cara ini beliau terapkan karena pengalaman beliau sendiri ketika menjadi minoritas -kreatif- di Mekah, yang terpaksa dianggap gila, dicaci dan harus diusir dari kampung halamannya karena memiliki pemikiran yang berbeda dan nyleneh di kotanya. Roshul mencoba untuk tidak melakukan hal serupa pada masyaakat yang baru ia bina, yaitu di kota Madinah, sayangnya sejarah bercerita lain, kaum Yahudi berbuat makar, dan ini yang melatar belakangi kesalahan memandang sejarah nabi, sebenarnya bukan Yahudi atau Kristen yang dimusuhi nabi waktu itu, tapi perbuatan makar, dan semua jenis makar yang mengancam kestabilan juga harus ditindak tegas, temasuk terhadap muslim sendiri yang nabi sebut sebagai ’orang-orang munafiq’. Kebencian terhadap hal lain, dengan jalan mengusir dan mencampakkan adalah larangan keras bagi roshul, karena beliau penah diperlakukan semacam itu sebelumnya, bagi nabi berlainan pendapat adalah hal yang wajar, tapi ikutilah cara-cara yang arif dan lemah lembut sesuai perintah rashul dalam menyikapi perbedaan (ali ’Imron (3) : 159), hal itu sudah jelas nyata, dan itulah salah satu cara membuktikan cinta kita pada beliau. Salah satu cara kita yang lain untuk menunjukkan cinta kita padanya adalah menjalankan ibadah makhdoh (seperti sholat, puasa ramadhan dll) serta dibarengi dengan selalu mengerjakan kebaikan (amal shalih) atau ’ngairu makhdoh (’amaliah insan ’ala insan wa ’alam), kepada sesama manusia, kepada alam sekitar, entah sebagai muslim mayoritas atau minoritas, kewajiban untuk berbuat baik adalah anjuran dan syarat-syarat taqwa: jangan melukai orang lain, jangan berbohong, jangan suka berlebihan, santuni fakir miskin, sayangi anak yatim, setia dan cinta pada negara, bekerja keras (seolah hidup selamanya) diimbangi dengan ibadah khusuk (seolah mati esok hari), mencintai kebersihan, menghargai waktu (disiplin), menjaga alam dan bumi, menjaga penampilan di muka umum, tidak korupsi, tidak suap, tidak nepotisme dan lain sebagainya.
Sering kali sebagian umat islam melambangkan cinta kepada rashulullah dengan melantumkan sholawat pada beliau hingga menciptakan getaran hati ketika menyebutnya, memang tidak apa-apa bahkan dianjurkan besholawat bila sempat ”Allohumma Sholli ’ala Syidina Muhammad’, tapi jangan sampai cara indah semacam ini lalu terjatuh hanya terbatas pada ritualitas semata, apakah cukup mendendangkan sholawat dan bergetar hati kita lalu bisa disebut mencintai beliau sepenuhnya? Bahwa mencintai beliau berati mencintai tauladannya, sepeti yang kita sebutkan: ubudiah (makhdoh) dan amaliah (amal shalih/ ghoiru mahdloh).
4. Tetap Homoseksual dan tetap ber-Ibadah
Kalimat ini (tetap Homoseksual dan tetap ber-Ibadah), karena pengertiannya telah terdistorsi (tercemarkan), serta mendarah daging, seolah merupakan sesuatu yang aneh dan kontradiktif. Homoseksual (Gay/LBGT) dimaknai sebagai perbuatan negatif dan kontra produktif, sementara ibadah itu sesuatu yang imanen dan teramat suci untuk disandingkan dengan suatu yang dusebut ’lain’. Homoseks disempitkan maknanya menjadi zina, seks bebas dan kegilaan, sementara ibadah dimaknai dengan suatu kultus suci dan agung tanpa kekotoran sama sekali. Sebelum kita bahas kalimat yang kontradiktif ini, mari kita kembali pada sifat-sifat Alloh Swt, Ia yang Maha Pengampun (al Ghofur) dan Maha Memahami (Al ’Alim) mestinya tidak akan menyia-nyiakan usaha makhluknya untuk mencoba dekat dan mengenal-Nya sekecil apapun usaha makhluknya, entah itu koruptor, pembunuh, pemerkosa, diktator, murtadin, kafir, bagi Alloh Swt pintunya terbuka untuk sifat Rohman (Kasih) dan Rohim (Sayang)-Nya, jangan samakan manusia yang tidak selalu mengerti segalanya tapi ”sok tahu” ini dengan Tuhan Yang Maha Agung, Tuhan kita adalah Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Pemaaf serta Maha Berkenan atas siapapun juga. Jadi tetaplah berusaha untuk sholat, puasa, belajar al Qur’an, siapapun kita dan apapun keadaan kita (asalkan sudah mandi besar, lalu wudlu dan tidak sedang mabuk), Alloh Swt Maha Mengetahui apapun dan kapanpun (Al An’aam (6): 59); (Al Kahfi (18):49). Lalu mengapa kita yang tetap Homoseksual malu menghadap pada-Nya?
Menggambarkan seolah-olah dengan perbuatan kita lalu Tuhan menutup pintu-Nya rapat-rapat pada kita, Oh Tidak!, Alloh Swt lebih dekat dari kerongkongan di leher kita, Dia meninggalkan nur nya di hati kita agar kita selalu mendapat perlindungan dan petunjuk-Nya. Alloh bersabda dalam hadits Qudsi:
”Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)”.
Selanjutnya apakah layak Homoseksual disamakan dengan zina, freesex dan gila, apakah kita yang merasakannya sendiri akan terima?! Mungkin sebagian kita dengan pengalaman pribadi akan bilang “Ya! Karena kenyataanya memang begitu!”, ayolah kawan......, kalau anda memang nyata seorang homoseks, apa anda pada hati yang dalam tidak memiliki cinta tapi hanya ada seksnya saja pada laki-laki? ”ya saya... saya... sebenarnya cinta, tapi saya terlalu jelek untuk pria-pria homoseks”, Oh Ya Alloh!, memang sih laki-laki tidak memiliki masa menstruasi seperti wanita sehingga selalu bersahwat dan bermasa subur setiap waktu, tapi bukan berati laki-laki selalu melihat fisik dan tidak memperhatikan kepribadian pasangannya, wanita dan laki-laki hetero saja secara jujur juga pasti 100 % melihat pasangannya dari fisik dulu, dan ada kalanya Roshul mengajarkan demikian, namun proses pengenalan lebih mendalam bisa jadi akan menggugurkan faktor fisik, banyak laki-laki cakep yang tenyata tidak cocok untuk dijadikan pacar yang serius kan? Dan fisik cuma suatu masalah selera, ada yang suka kulit coklat, putih juga hitam, ada yang suka berotot, kurus, juga gendut, ada yang suka wajah indo, ’mas-mas jawa’, cina atau afro, ada yang suka tinggi, sedang atau pendek, ada yang suka bersih, biasa, bahkan kotor, ada yang suka maco, ada yang suka sissi dan banyak lagi, mungkin anda belum waktunya dapat yang cocok, atau mungkin anda perlu instropeksi, barang kali anda mencari yang terlalu sempurna, toh didunia tidak ada yang sempurna kan, jadi anda perlu menurunkan kriteria anda. Yang jelas, sebisanya jangan freesex, dan kalau calon pacar anda meminta itu duluan dipertemuan awal, usahakan untuk menolaknya, ”sulittttt kaleeeeee..... ”, ya memang sulit, hubungan heteropun bilang gitu juga, tapi anda harus terus belajar, karena anda homo muslim, anda paham kan? Wong homo atheis saja pada akhirnya juga menginginkan hubungan yang setia, apa lagi anda, lelaki homo yang islam. ”ih mana ada agama memperbolehkan homo??”, jawaban GII selain: coba anda baca buletin kami sebelumnya (vol.1/no 6), ya anda jangan jadi homo dunks kalau gitu, GII yakin (fil Ijtihad) bila homo dalam “catatan tebalnya” diperbolehkan untuk membangun relasi yang setara dan berkelanjutan secara islam.
Kembali ke makna ibadah. Ibadah bisa berarti bermacam pula, selain yang tadi wajib, anda sabar itu juga ibadah, anda jujur itu ibadah, anda berani berbuat membela yang lemah itu ibadah besar, anda istirahat cukup itu juga ibadah, anda makan secukupnya itu ibadah, anda menyingkirkan batu ditengah jalan itu ibadah, anda membuang sampah pada tempatnya itu ibadah besar, menghemat penggunaan kantung plastik malah juga ibadah besar, anda menolak suap itu ibadah besar sekali, anda bepakaian sopan dan berpenampilah menarik itu ibadah, anda setia pada pasangan itu juga ibadah (tak peduli anda homo atau hetero), anda berusaha membentuk tubuh yang indah untuk menyenangkan pasangan anda juga ibadah, dan anda melakukan hubungan seks dengan pasangan tetap yang telah disahkan (vol.1/no 6) itu ibadah, ada banyak ibadah terutama amal shalih yang mendapatkan ganjaran besar di akhirat. Dan itulah Islam dalam makna yang sebenarnya, sangat luas dan sangat dermawan, Karena Tuhan Maha Pemberi Anugrah. Jadi akankah kita tetap bilang aneh janggal kalimat: ” tetap Homoseksual dan tetap ber-Ibadah”, sebaiknya kita renungkan kembali arti penciptaan Tuhan ini dan keberadaan kita sebagai hamba di dunia.
5. Suatu Penutup: Ibadah, Cinta dan Kerja
Dari masa ke masa, setiap kata yang telah diciptakan manusia sering kali seperti dua sisi mata uang, atas nama agama orang saling membunuh, atau sebaliknya orang mencintai orang lain, atas nama ibadah, orang mengkafirkan orang lain atau sebaliknya orang menghomati orang lain, atas nama cinta orang menghujat orang lain atau orang berusaha saling memahami, atas nama kerja orang menghina dan memperbudak orang lain atau orang sebaliknya tulus menolong orang lain. Yang bisa dilakukan oleh seorang muslim hanyalah satu hal untuk semua jawaban diatas, apakah Alloh Swt, satu-satunya penyebab asal yang menggerakkan semuanya, dari putaran-putaran dalam galaksi hingga putaran-putaran elektron-proton dalam atom, mengajari ke-Esa-an-Nya dalam pembunuhan, dendam dan prasangka? Kiranya kita harus kembali bertanya lagi apa artinya Agama bagi kita?
Wallahua’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar