Jumat, 11 Maret 2011

Buletin Jumat BISIKAN (GAY WHISPER'S) Vol.1. no.9. Seks Bebas (Homoseksual Tidak Berarti Seks Bebas!). minggu ke-2/maret/2011.

Seks Bebas !!
(Homoseksual Tidak Berarti Seks Bebas!)

Free Download PDF (english version):
coming soon!
Free Download PDF / Gratis format buku (PDF) (bahasa Indonesia)
Free Download More Edition / Edisi lebih lengkap :
Web Blog GII:

Our Forum-Web / Diskusi Web Kita:
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maa’idah (5) : 8).

I. Perumpamaan: Pangeran dan Pelayan.
Ada seorang pangeran (laki-laki) yang jatuh cinta pada seorang pelayan rendahan (perempuan) demikian juga sebaliknya, andai hubungan ini diketahui kerajaan dan rakyatnya,  mereka akan mengusir keduanya dari negara kerajaan itu, dan membuat mereka terkucilkan, demikian yang diperintahkan menurut  ajaran Tuhan yang mereka yakini, “seorang pangeran diharamkan mencintai rakyat jelata”.

Untungtungnya hubungan mereka tidak ada yang mengetahui, untuk mencegah hal buruk tadi, di luar ruang pribadi pangeran, mereka seperti halnya seorang pangeran dan pelayan, biasa-biasa saja, yang membedakan hanyalah pelayan yang pangeran cintai itu diangkat sebagai “pelayan dekat”, sehingga kerajaan memperbolehkan sang pelayan tinggal di rumah pribadi pangeran, demikian tidak bertentangan dengan ajaran dari agama kerajaan. Cinta mereka tidak direstui entah sampai kapan, oleh semua di luar sana, hanya berdasar moral kebanyakan orang yang diyakini. Tapi ini tentang cinta, ketertarikan, kerinduan, kesetiaan, kasih sayang, kecemburuan dan hasrat. Bahwa diri sendiri apalagi orang lain tak  leluasa untuk memilih kepada siapa harus jatuh cinta, ini tentang perasaan yang mengalir apa adanya.

Saat pangeran dan pelayannya berada diruang pribadinya, kerinduan itu tertumpahkan, memeluk erat-erat dan mencium kening mesra, seolah melebur dalam cinta yang terhalang tembok besar,

“di luar sana aku hanya seorang pangeran kesepian, yang melakonkan “drama” ini seumur hidup, hanya di ruang sempit ini aku bisa mencintai apa yang sebenarnya ingin aku cintai, hanya di tempat ini aku benar-benar bisa menjadi diriku sendiri, walau di luar sana, cinta kita menjelma  menjadi kutukan, cacian bahkan kerajaan kita telah mengutuknya menjadi: kejahatan dan kegilaan serta penyakit, sungguh betapa menderitanya cintaku ini di luar sana! Tapi tidak di ruang ini, kita bisa melakukan apa saja, persetan dengan semua yang telah diucapkan orang-orang di luar sana, dengan mengatasnamakan pemahaman yang salah terhadap kepercayaan, sehingga menjadikan pemahaman “sempit” itu seolah Tuhan yang haus penyembahan! Bukankah itu hanya pemahaman manusia saja atas kitab suci, bukan dari kitab suci sendiri apalagi dari Tuhan Maha Pengasih Itu? Bahkan pemahaman kebanyakan orang yang telah berlangsung beribu-ribu tahun dengan menganggap raja, kaisar dan khalifah sebagai wakil Tuhan,  bisa saja tumbang suatu saat nanti? Bahwa pemahaman akan budak sebagai sesuatu yang dianggap alami dan wajar di semua peradaban, mungkin suatu saat akan dianggap pemahaman yang kejam dan tidak berperi kemanusiaan?   Suatu saat, mungkin sebentar lagi, atau beberapa waktu setelah kita mati, cinta yang telah disalah pahami ribuan tahun ini oleh pemahaman pemimpin agama-agama  kitab suci kerajaan ini, akan dikoreki oleh orang-orang di masa datang, sehingga nantinya ulama-ulama dan institusi kerajaan akan meminta maaf dan penyesalan terhadap perlakuan mereka yang telah salah terhadap orang-orang yang memiliki takdir cinta seperti kita, aku dan kamu. Sungguh kitab suci Tuhan kita teramat tinggi hanya untuk dikuasai maknanya oleh segolongan manusia saja, apalagi manusia hanyalah seonggok jiwa yang hidup dengan sejarah dan tubuh serta tekanan pemerintah serta masyarakat kebanyakan yang tidak lepas dari salah”, demikian ujar pangeran.

“Tuan adalah pangeran hamba di ruang ini atau di luar ruang ini” bisik sang pelayan cantik jelita.

“Oh tidak! Diluar pintu ini kita hanya melakonkan drama manusia yang mereka paksakan, di dalam ruang ini, inilah lakon kemanusiaan antar manusia yang sangat manusiawi, kita menerima kelebihan dan kekurangan kita apa adanya, walau kita saling mengisi untuk sesuatu yang lebih baik”

“Dan kita tidak mungkin bisa menikah Pangeran, hamba adalah pelayan paduka …”

”Tidak..... panggil aku Kangmas....., kita akan menikah, tapi tidak menikah diluar sana, dimana orang-orang mengutuk hubungan kita, dan tempat tempat ibadah serta ulama-ulama menutup rapat pintunya untuk cinta kita”

”jadi siapa yang menikahi kita paduka....mm... Kangmas hamba.....?”

Keduanya terdiam agak lama
”Aku dan kamu memang cuma dua orang, bahkan walaupun dikerajaan yang luas ini hanya ada satu pangeran dan satu pelayan yang memiliki cinta yang disalah pahami oleh semua orang, kita harus melakukan sesuatu........ Apakah cukup bagi kita hanya mengakhiri cinta ini di ranjang saja, bukankah cinta adalah kehidupan di dalam dan di alam yang bebas, bukan suatu drama yang dilakonkan diluar pintu ini, Aku tidak akan membiarkan yang diluar sana, semua orang gila itu mengutuk kita seperti perampok, koruptor atau pemerkosa.........”

”tapi hamba bukanlah bangawan, hamba hanyalah anak manusia yang tak paham tentang sabda anda...”

”Oh Tidak, bagiku semua manusia sama, semua juga tempatnya khilaf dan lupa, bukankah itu yang diajarkan agama kita, aku hanya pangeran yang dijuluki oleh manusia dan bukan oleh Tuhan, demikian ayahku, Paduka Raja dan juga ulama dan jendral  kerajaan kita, mereka semua manusia yang sama......... sungguh kita harus lakukan sesuatu.............”

”Bukankah ini berbahaya, hukumlah hamba bila hamba lancang, ini seperti yang telah dilakukan musuh-musuh kerajaan ini terhadap kerajaan mereka sendiri, apakah Paduka..mm.. Kangmas akan mengajarkan pikiran-pikiran asing itu untuk kerajakan kita...”

”Oh tidak sayank ku, tidak ada yang asing dan tidak ada yang paling murni, kebenaran bisa datang dari manapun, karena kebenaran adalah mutlak ada tanpa mengenal negara atau bahkan agamana tercampur dalam kepentingan manusia, kebenaran tidak memiliki merk dagang tertentu atau nama khusus...........”

”Paduka begitu pintar........, hukumlah saya karena saya tidak memahami sabda paduka.”

”Karena cinta mu pada ku, saya tidak akan pernah melakukannya...............”

”Jadi apa yang bisa hamba bantu paduka, mm... kangmas..............”

”Kita akan membuka pintu ruangan ini lebar-lebar, dan kita akan terima semua tamu yang datang, di luar sana, kebenaran yang terbenam, akan selalu akan mendapat tempatnya di lubuk hati sebagian orang, yang mungkin sedang ketakutan dan gelisah............ dan kita akan berjuang bersama mereka..........”

”Kangmas akan menghancurkan kerajaan ini......?”

”Kita tidak sedang mengubah kerajaan ini sayank..., kita tidak sedang mengubah agama kerajaan kita, kita tidak sedang mengubah kitab suci, kita hanya mengubah beberapa pemahaman yang dilakukan dimasa lalu yang tidak lagi bisa mendapatkan pembenaran dimasa kini, Raja, Ulama, dan cendekia serta bangsawan bukanlah manusia-manusia yang memiliki kekuasaan absolut yang mewakili Tuhan, sepertinya kita membutuhkan perdana mentri yang dipilih rakyat, dan ruang-ruang dialog antara Ulama dan rakyat, dan bukan ceramah monologis di mimbar-mimbar tempat ibadah kita, rakyat jelata dan golongan minoritas harus berbicara bebas dan mereka harus diberikan ruang yang setara dan sama.... Bukankah ini yang diajarkan dalam kitab suci dan para Nabi? sayangnya kita mengabaikan sebagian dari kitab suci dan hanya menggunakan sebagiannya saja untuk kepentingan tertentu........ kita beragama dan bernegara dengan penuh kepentingan, bukan sebuah pengabdian tulus............”

”Raja, hamba... hamba hanya seorang pelayan........, hamba takut akan perubahan ini... hamba tidak mengerti ucapan Paduka..”

”Tapi engkau cucu Nabi Adam, dan jiwa mu dihembuskan dari-Nya, karenanya cukup untuk menyebutkan setiap manusia itu istimewa, dan setiap manusia adalah Pangeran atau Putri... bagi Tuhan dan bagi ku, engkau adalah seorang putri....”

”Putri.............”

”Ya..... Putri yang akan menjadi ratu di hatiku, dan di hati semua rakyat..........., tapi kelak gelar ini hanya sekedar nama, semua keinginan rakyat ada pada perdana mentri, yang dipilih langsung..., saya tidak terinspirasi oleh negara lain, ini bagian dari ajaran Kitab Sucu kita yang sengaja kita benam dan kita tutup rapat beribu-ribu tahun....”

”Tapi Paduka, Bukankah itu tidak pernah ada, beribu-ribu tahun yang lalu, bahkan sejak kerajaan ini diciptakan, sejak  sabda Tuhan itu turun..”

”Yang belum ada, atau yang tidak selalu terlihat, belum tentu tidak benar........ sama seperti cinta kita......”

”Dimulai dari membuka ruang pribadi Paduka................?”

“Membuka diri dan menerima semua ini apa adanya pada diri kita, lalu mengundang siapa yang siap memahami dan terbuka terhadap cinta kita, serta bersatu bersama mereka yang mungkin senasib dengan kita”

“Mulai kapan............”

“Mulai saat ini...........”

“Bagaimana bila raja marah dan mengasingkan Paduka? Saya hanya pelayan, saya siap mati bila Paduka Raja memintanya..... maafkan hamba..”

”Hemm... Ribuan tahun yang lalu leluhur kerajaan ini mendirikan kerajaan ini dengan perjuangan demi kemerdekaan..”

”Dan setelah ribuan tahun hamba dan paduka akan menentang kerajaan ini...... hamba siap Paduka hukum dengan ucapan ini...”

“Tidak, tidak berdua, ada ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan orang bila mereka berani bicara.., bahwa cinta tidak membutuhkan definisi tapi hanya suatu ungkapan kasih sayang yang tulus........”

“Ampuni hamba, hamba  tidak mengerti.......... perkenankan hamba untuk membantu paduka”

“Ya, aku akan melakukannya saat ini,  kita harus terus belajar, bukan sekedar kata-kata..............”

”Kalau begitu, perkenankan hamba untuk membuka pintu ini sekarang Paduka... mmm... kangmas Paduka Pangeran......................”

Dan pintu itu terbuka lebar-lebar, dimulailah suatu perjuangan, dimana semua orang berhak untuk belajar menjadi apapun yang mereka yakini dan inginkan,  selalu belajar memahami bahwa apa yang diinginkan Tuhan adalah ”cinta” dan bukan sekedar ”nafsu” atau keinginan orang lain.

II. Hubungan Homoseks dan Freesex
Sering kali orang salah memahami termasuk diri kita sendiri, nyaris tidak bisa membedakan antara: orientasi cinta dengan freesex. Banyak yang mengatakan bahwa Gay selalu berperilaku freesex atau setidaknya pernah melakukan freesex. Perkenankan GII memberikan suatu analogi: seperti kisah pangeran dan pelayan tadi, dimana di lingkungan luar mereka dianggap aneh bahkan dikriminalkan, sementara tekanan akan keyakinan yang dipahami mentah-mentah telah membawa mereka pada beberapa kemungkinan: 1. Cuek, 2. Bingung, 3. Menjadi ”harapan” orang lain, 4. Mencari kebenaran terus menerus.

Yang cuek, pasti akan berfikir, persetan lah !, yang penting saya nikmati semua ini seperti air, mereka tidak berurusan dengan penerimaan atau tidak stigma perlakuan orang lain, ”luwes”, mau temennya dihina atau kesulitan ya biarin, mau dia dipaksa kawin dengan perempuan ya ”its Ok”, mau apa saja ya silahkan, bagi mereka yang cuek, tidak perlu ada yang diubah selama kedudukan mereka aman, kelompok ini cenderung agak hedon, sangat realitis, dan menghargai hidup seperti air yang bebas mengalir, memang cara yang mereka lakukan ”teramat nikmat”, tidak terbebani atau membebani, tapi sering kali kekurangan mereka adalah pada sensitifitas yang dangkal terhadap hidup.

Yang Bingung, dia terlalu serius dengan orientasi seks nya, ”kaku”, tapi menerima stigma masyarakat sebagai kebenaran yang tidak perlu dikoreksi atau dipertanyakan, mereka homo, melakukan perbuatan homo, tapi mereka menyalahkan homo, meng-iya-kan sebagai kegilaan dan penyakit seperti kebanyakan yang dikatakan orang lain, bahkan mereka menganggap Tuhan sebagai ”sosok orang tua” yang sangat kejam, sehingga mereka lebih sering tertekan, homo semacam ini bingung luar kepalang, homo tapi menyalahkan homonya tapi masih berperilaku homo.

Yang menjadi ”harapan” orang lain, mereka sangat menerima stigma homo itu gila, penyakit dan haram, mereka berusaha mencegak kontak terhadap dunia homoseksual, dan sering kali menjadikan gay, yang sebenarnya mereka punyai juga,  sebagai common enemy (musuh bersama), sesuatu yang mereka butuhkan sebagai ”terapi penyembuhan”, dimana dengan membenci sesuatu, berarti bisa menjauh atau tidak lagi mencintai sesuatu itu. Bagi GII metode itu mungkin bagus bagi menyembuhkan kecanduan narkoba, minuman keras atau freesex di kalangan hetero ataupun homo, tapi sangat tidak tepat untuk suatu kebencian akan cinta yang ada di hati, sejauh mereka pergi, hati mereka tetaplah Gay,apapun yang terjadi.

Yang mencari kebenaran terus menerus, barang kali adalah kelompok homo yang memiliki sifat ”kutu buku”, terlalu banyak baca buku-buku psykologi, kedokteran, filafat, ekonomi, semiotika, spiritualitas, politik dan buku-buku bacaan lain yang membebaskan fikiran mereka, sehingga menganggap dunia ini begitu sangat bermakna namun penuh warna, memang terkadang ini akan mengahiri hidup mereka di dunia kesendirian, beranggapan bahwa mereka yang paling tercerahkan, namun pengembangan untuk bereaksi terhadap kenyataan hidup yang tidak selalu adillah yang membuat mereka makin hidup dan selalu penuh kritik terhadap sesuatu yang telah mapan.

Ke-Empat golongan ini memang berbeda, tapi sama-sama homo, ada yang menikah dan setiap pada perempuan, ada yang menikah dengan perempuan tetapi masih bermain dengan laki-laki, ada yang ’menikah’ dengan satu pasangan laki-laki, ada yang gonta-ganti pasangan, dan ada yang hidup dengan kesendirian. Inilah faktanya, bahwa di lingkungan Indonesia yang relatif agak permisif dibanding di dunia islam lainnya, homoseks menghasilkan bukan sekedar vareasi makna dari yang jahat sampai dianggap nleneh dan nyeni,  namun bagi Gay-nya sendiri menghasilkan bermacam akibat yang tidak selamanya buruk.

Di dunia barat, mungkin dengan kontrol moralitas individu yang relatif angat kendor, hetero ataupun homo sering kali merupakan pilihan yang bebas dalam suatu hubungan. Denmark (dan hampir semua negara Skandinavia), Belanda, Amerika Serikan, Brasil dan sejenisnya, beranggapan bahwa perzinahan bukanlah sebuah aib besar apalagi sebagai  kriminal, prosentasi seks di luar nikah pada usia remaja cenderung sangat tinggi, demikian juga ’kumpul kebo’ merupakan hal yang mudah sekali dimengerti dan diterima, freesex relativ diterima bebas oleh kelompok hetero dan juga homo, tidak memandang orientai cinta / sek mereka.

”Gay cenderung freesex”, pernyataan itu tidaklah sepenuhnya tepat, suatu kondisi seperti cerita pendek diatas, jika pangeran dan pelayan, hanya mampu mengungkapkan cinta di kamar pribadi pangeran, sementara di luar sana, berpegangan tangan apa lagi berpelukan dianggap janggal, kecuali sang pangeran siap turun sebagai putra mahkota (pengorbanan yang berat), maka cinta itu tidak leluasa bergerak, karena cinta adalah kehidupan yang total, dan 99% nya direnggut oleh negara dan juga lembaga agama, sementara hanya disisakan cinta Gay di ruang privat atau bahkan di tempat esek-esek khusus, atau di dunia malam, maka andai heterosek pun diperlakukan semacam itu, yang berkembang selanjutnya tentu hanya tentang ranjang, ranjang, ranjang dan ranjang lagi, kebebasan di luar sana hanya diterima di night club, chating one night stand, pijat cowok dan ruang hedon lainnya, jadi wajar yang terjadi akhirnya adalah seks, dan cuma sekedar seks, jadi sekali lagi, heterosek pun apabila diperlakukan semacam itu pasti akan cenderung sangat freesex.

Freesex sebenarnya tentang godaan, seperti perempuan dan laki-laki yang saling mencintai, di luar kamar mereka tidak boleh melampiaskan cintanya dengan bebas, tapi justru boleh main dan nginap semalaman di kamar salah satu pasangan, apa yang akan terjadi? Atau bagaimana apabila pasangan homo bisa bangga berjalan bebas di keramaian, memeluk erat di jalan, atau berkencan tanpa rasa canggung di warung hingga restoran, boleh mencium kening, tidak sungkan menghadiahi bunga mawar pada kekasihnya, karena lingkungan yang ramah terhadap mereka dan memaklumi keberadaan mereka, bahkan masjidpun memperbolehkan mereka hadir, bukan hanya sebagai individu terpisah tapi juga sebagai keluarga, pasti kecendrungan freesex akan sangat menurun. Faktanya, tidak homo tidak hetero freesex itu ada ketika dunia semakin bebas atau justru sebaliknya ketika dunia semakin tertekan, seperti cerita dan juga negara-negara yang kami sebutkan di atas.

Adalah tidak adil menhukumi gay sebagai pezinah atau freeseks, toh di Indonesia tidak ada secara terang-terangan pronstitusi khusus gay seperti yang dimiliki heteroseks, seperti Dolli atau Sarkem. Lalu apakah Gay dengan alasan ini bisa balik menghujat bahwa hetero itu freesex? Tentu tidak,  Generalisasi (hantam kromo) adalah sesuatu yang memuakkan dan penyakit yang tidak mudah sembuh di negeri ini. Kebanyakan kita tidak terlatih untuk melihat, seseorang sebagai individu dan seseorang sebagai suatu kelompok, kalau ada waria jual diri di jalan, bukan berarti semua waria seperti itu, kalau ada ulama yang terlibat korupsi atau kriminal, bukankah tidak semua ulama seperti itu? Kalau ada politikus korupsi, bukankah tidak semua polutikus korup? Kalau ada seorang muslim Jawa mencopet di bis kopata lalu apakah semua muslim yang Jawa itu pencopet? Atau ada Cina yang pelit padahal kaya, lalu apakah kita bisa katakan semua Cina pelit dan kaya? Kita harus terlatih membedakan individu bukan sekedar sebagai satu subjek yang dengannya maka keseluruhan identitas yang sama bisa dikenakan.

Identitas bukanlah suatu tentang perilaku yang dapat dipilih dengan leluasa. Beda dengan orang freesek bisa jadi suatu saat justru setia dengan pasangannya, pemabuk bisa jadi besok tidak lagi jadi pemabuk, koruptor bisa jadi setelah dipenjara justru berkampanye anti korupsi. Identitas lebih merupakan suatu faktor pembawaan yang melekat sejak lahir (bisa jadi ini masih diperdebatkan), Hetero, Biseks danHomo, Laki-laki, Perempuan dan Transseks, Jawa, Aceh, Batak, Minahasa, Sunda, Bali adalah beberapa onggok identitas, barangkali tidak bisa begitu saja diubah. Namun identitas sendiri bukanlah sesuatu yang solid dan utuh, misal: Orang Jawa pemeluk Kristen, dia adalah mayoritas sebagai Jawa namun minoritas ebagai Kriten, waktu ia pindah di Irian, ia menikah dengan penduduk asli, barang kali dia tidak bisa sepenuhnya disebut Jawa secara budaya, apalagi anak-anaknya, dan ketika ia masuk Islam lalu pindah rumah di Manado maka dia beragama minoritas di wilayah tersebut. Identita itu sering kali begitu cair, apa lagi di negara yang multikultur seperti Indonesia.

Tidak ada hubungannya antara orientai cinta (untuk tidak bilang orientai seks semata) dengan freesex, tepatnya freesek lebih berhubungan dengan lingkungan sosial dan kondisi sosial yang mendukungnya, baik secara individu atau kelompok. Bagi seorang gay, freesex lebih sering terjadi karena situasi yang tidak memungkinkan untuk memahami cinta yang lebih luas (bukan sekedar seks) di luar kamar pribadi mereka, tidak adanya ruang sosial bagi kelompok minor, bahkan acara gay saja dilarang dan dibubarkan oleh suatu kepentingan suatu kelompok kecil dengan pemahaman agama yang sempit mengatasnamakan suatu identitas agama yang mayoritas, akan berkorelasi dengan pelampiasan hasrat hanya di kamar tidur belaka, dan ini mengakibatkan mereka berperilaku freesex.

Bertahan, tabah dan sabarlah selama kita bisa! Sambil belajar dari kesalahan sebagai manusia biasa...

Jadi, banggalah dengan identita kita sendiri, dan teriakkan (setidaknya)  di dalam hati yang paling dalam:

”Yups, saya Gay, saya seorang Muslim, dan saya adalah Orang Indonesia, saya bangga menjadi ketiganya, menyatukan ketiganya tanpa mengurangi ketiganya untuk memperkaya pandangan hidup saya. Gay sama sekali tidak membuat saya menjadi freesex, namun ia mengajari saya untuk mencintai dan dicintai dengan tulus. Terimakasih Ya Alloh atas segala




9 komentar:

gambuz_el-asyiqin mengatakan...

tau gak, dulu kaum nabi luth di beri adzab oleh Allah karena apa?....

mereka di adzab karena suka dengan sesama jenis. kalo kalian masih tetp dengan pendirian kalian, tunggulah kehancuran kalian.

Anonim mengatakan...

sotoy deh,..

Anonim mengatakan...

gambuz@ kamu tuh naif yah,..ngga ngrasain gmn rasanya jadi gay, tapi kok ngomong seolah-olah kamu tahu segalanya

Anonim mengatakan...

Hal macem gitu kan sangat bisa d lawan..aslinya saya juga pernah ngalamin..tapi saya gmw ngikutin..alhasil..saya bisa ngelewatin smwnya..
Banyak juga kok gay yg akhirnya tobat dan bisa kembali normal..
Allah g akan memberi cobaan melebihi kemampuan hambanya..yg penting niat kalian dikuatin..

Dan yg paling saya gak suka..napain kalian yg tau ini semua dosa pake bawa2 ayat buat ngebela diri? Pake bawa nama gay islam..naudzubillahimindzalik.. tau ga..gw dapet link ini dari temen gw yg kristen..dan dia cuma bisa ngetawain..plis deh.. kaga usah macem2 lah

Anonim mengatakan...

Izinkan saya memberikan pendapat. Ingat, Islam sangat menghargai kebebasan berpendapat.
Menurut saya semestinya kalian berpikir kalau ini cobaan dari Allah. Cobaan ini unik karna tidak semua orang "dianugerahi" ini. cobaan ini unik karena iya, semakin kalian merasakan semakin kalian menikmati. Berusahalah buat lepas dari cobaan ini, yakinkan kalau kalian bisa. Ingat, kaum Nabi Luth diazab dengan hujan batu api karena mereka (maaf) seperti kalian. jangan kalian menyampuradukkan yang hak dan yang bathil. Jangan kalian bawa-bawa ayat suci Al-Quran di forum seperti ini. Sangat tidak relevan.
Yang harus diperhatikan adalah, jangan berbicara tentang Islam kalau kalian tidak mengerti tentang Islam.
Yang kedua. ISLAM TIDAK MENGENAL HOMOSEKSUAL

muhasabah diri mengatakan...

Ya Allah....
Bersegeralah taubat.
Sebelum ajal mendekat.
Atau sbgmn kaum luth, mendapat laknat
Dan diakherat sekarat

Anonim mengatakan...

Stupid motherfuckers, you all will die in an islamic caliphate

Unknown mengatakan...

SAMI'NA WA ATA'NA. KALAU AGAMA UDAH NGELARANG YAH UDAH NGAK USAH DIAKAL-AKALIN LAGI

Anonim mengatakan...

melayani vcs dan tusbol please sent inbox facebook zhimonk abibel