Free Download PDF (bahasa Indonesia):
Free Download PDF (English version)
Free Download More Edition :
KEDUNAWIAN DAN KEAKHIRATAN
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(al Baqarah, 30)
I. Berawal dari dunia.
Diawali dari suatu pernyataan yang menggelitik tentang manusia dalam agama-agama besar dunia. Satu agama menyatakan bahwa kita adalah wujud reinkarnasi, yang lainnya bilang kita berasal dari jelmaan putra dewa, dan yang lainnya menyatakan bahwa kita berasal dari surga yang turun ke dunia. Mana yang benar dan mana yang salah? Ini adalah suatu pernyataan keimanan manusia yang paling hakiki, tidak ada yang tahu pasti berasal dari mana kita semua? Pengetahuan sebagai agama baru telah menyatakan faham evolusioner, bahwa kita dari kera dan lalu ditentang oleh pengetahuan sendiri, oleh ajaran neo creation yang menyatakan bahwa “satu sel yang paling sederhana saja tak bisa begitu saja diciptakan secara kebetulan, kaena secara bio molekuler dan genetic ternyata sangat komplek setara dengan kerumitan pesawat”. Apa mungkin ada suatu kebetulan di dunia telah menciptan pesawat terbang? Bumi yang secara subtil seimbang? Siapa yang telah menciptakan semua ini? Tuhan? Siapa Tuhan? Dan untuk apa kita berada di sini?
Ibrahim, bapak para nabi, memulai pencarian Tuhannya hanya dengan akalnya, di seputaran gurun Sinai ia mencari-cari Tuhan dari gejala alam, semula ia anggap matahai itu Tuhan, tapi ketika malam datang, di mana tuhan matahari?, lalu ia mencoba menyembah bintang dan bulan, tapi saat pagi, ia tak tahu dimana keduanya, lelah ia mencari, lalu pada akhirnya Tuhan menyuruh Jibril menunjukkan “muka”nya, dan mewahyukan Ibrahim tentang Tuhan yang sesungguhnya. Ini adalah kisah dari Islam dan semua agama satu rumpunnya, (Yahudi dan Kisten), bahwa suatu usaha “akal” akhirnya telah menemukan Tuhannya.
Memang pada kenyataannya, kita tidak bisa beragama diawang-awang, Tuhan ada di mana-mana, tidak dibarat dan tidak di timur “la Masrq la maghrib”. Tuhan bahkan bisa lebih dekat dari kerongkongan kita, atau bisa jadi ia terlalu jauh untuk kita gapai, jauh di sana.
Lalu beberapa agama mendengungkan kesucian untuk merebut dan mendekat dengan Tuhan. Mensucikan diri mereka dari “duniawi”, mengurung diri dalam kehidupan sehari hari, atau membatasi diri dari dunia dan kenyataan hidup. Kesucian diri dalam islam adalah tema yang ada sejak lama, sejak jaman sahabat merupakan kajian yang muncul dan tenggelam, sama dengan hedonisme (kekuasaan dan terror), bahkan disetiap agama hal ini ada, para brahmin hindu, ordo-ordu pertapaan kristen, para biksu di vihara-vihara tertutup, rata-rata mempraktekkan kehidupan ketat yang jauh dari dunia yang mereka anggap “fana” yang bukan tujuan manusia sejati. Dunia dianggap godaan, kotor dan ancaman bagi sekian banyak aliran ini.

