Kamis, 03 Februari 2011

Keduniawian dan Keakhiratan

Free Download PDF (bahasa Indonesia):
Free Download PDF (English version)
Free Download More Edition :


KEDUNAWIAN DAN KEAKHIRATAN

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(al Baqarah, 30)
I. Berawal dari dunia.
Diawali dari suatu pernyataan yang menggelitik tentang manusia dalam agama-agama besar dunia. Satu agama menyatakan bahwa kita adalah wujud reinkarnasi, yang lainnya bilang kita berasal dari jelmaan putra dewa, dan yang lainnya menyatakan bahwa kita berasal dari surga yang turun ke dunia. Mana yang benar dan mana yang salah? Ini adalah suatu pernyataan keimanan manusia yang paling hakiki, tidak ada yang tahu pasti berasal dari mana kita semua? Pengetahuan sebagai agama baru telah menyatakan faham evolusioner, bahwa kita dari kera dan lalu ditentang oleh pengetahuan sendiri, oleh ajaran neo creation yang menyatakan bahwa “satu sel yang paling sederhana saja tak bisa begitu saja diciptakan secara kebetulan, kaena secara bio molekuler dan genetic ternyata sangat komplek setara dengan kerumitan pesawat”. Apa mungkin ada suatu kebetulan  di dunia telah menciptan pesawat terbang? Bumi yang secara subtil seimbang? Siapa yang telah menciptakan semua ini? Tuhan? Siapa Tuhan? Dan untuk apa kita berada di sini?

Ibrahim, bapak para nabi, memulai pencarian Tuhannya hanya dengan akalnya, di seputaran gurun Sinai ia mencari-cari Tuhan dari gejala alam, semula ia anggap matahai itu Tuhan, tapi ketika malam datang, di mana tuhan matahari?, lalu ia mencoba menyembah bintang dan bulan, tapi saat pagi, ia tak tahu dimana keduanya, lelah ia mencari, lalu pada akhirnya Tuhan menyuruh Jibril menunjukkan “muka”nya, dan mewahyukan Ibrahim tentang Tuhan yang sesungguhnya. Ini adalah kisah dari Islam dan semua agama satu rumpunnya, (Yahudi dan Kisten), bahwa suatu usaha “akal” akhirnya telah menemukan Tuhannya.
Memang pada kenyataannya, kita tidak bisa beragama diawang-awang, Tuhan ada di mana-mana, tidak dibarat dan tidak di timur “la Masrq la maghrib”. Tuhan bahkan bisa lebih dekat dari kerongkongan kita, atau bisa jadi ia terlalu jauh untuk kita gapai, jauh di sana.

Lalu beberapa agama mendengungkan kesucian untuk merebut dan mendekat  dengan Tuhan. Mensucikan diri mereka dari “duniawi”, mengurung diri dalam kehidupan sehari hari, atau membatasi diri dari dunia dan kenyataan hidup. Kesucian diri dalam islam adalah tema yang ada sejak lama, sejak jaman sahabat merupakan kajian yang muncul dan tenggelam, sama dengan hedonisme (kekuasaan dan terror), bahkan disetiap agama hal ini ada, para brahmin hindu, ordo-ordu pertapaan kristen, para biksu di vihara-vihara tertutup, rata-rata mempraktekkan kehidupan ketat yang jauh dari dunia yang mereka anggap “fana” yang bukan tujuan manusia sejati. Dunia dianggap godaan, kotor dan ancaman bagi sekian banyak aliran ini.

Keberagamaan dalam Keberagaman















\
MENYAPA DENGAN CARA GEMBIRA (vol.1, no.4. )
Free Download PDF (bahasa Indonesia):
Free Download PDF (English version)
Free Download More Edition :


I. Islam dan keberagaman.


Kita akhir-akhir ini sering terheran-heran dan canggung melihat islam di Indonesia terutama di wilayah perkotaan dipenuhi dengan semangat keislaman yang sangat menggebu-gebu. Di lain pihak ketersinggungan  negeri ini dengan kebudayaan di luar sana menambah cita rasa ke-Indonesiaan kita menjadi sangat “nendang dan nyuss”. Bebeapa kalangan diantara kita sungguh-sungguh mengusung agenda kebebasan pemikiran dalam islam (yang memang telah ada sejak lama di dunia islam, ingat mu’tazillah), yang lainnya mengajak untuk ‘kembali’ ke otentitak (sesuatu yang juga ada sezaman dengan mu’tazillah, diabad awal islam).

Dahulu kala ketika Indonesia hanya mengenal TVRI dan TPI, hidangan-hidangan semacam ini adalah suatu yang sangat istimewa, nyaris waktu itu hanya ada dua organisasi keagamaan yang sangat dominant di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah, dua-duanya kalau kita masih ingat waktu itu saling berebut pengakuan dari Bapak (mantan) Presiden Soeharto Yang Terhormat, mungkin kalau itu diputar ulang kisahnya di jaman sekarang, akan terasa lucu dan asing bila suatu lembaga keagamaan meminta ‘sungkem’ pada presiden. Sekarang ini presiden macam apapun bisa digugat. Sehingga reformasi sedikit banyak membuka peluang untuk lebih lega dari sesak atas dogma dan belenggu kekuasaan.

Apakah kebeagaman adalah suatu ancaman dalam islam?? Bagi kami ini adalah suatu pilihan, seperti contoh, di warung makan anda bisa memilih dua menu saja, soto dan gulei ayam, tapi ada warung lain yang menyediakan bukan hanya dua pilihan itu, tapi ada nasi goring, rawon dan sate madura, mana yang akan anda pilih?

Agama Islam memang bukan hidangan makan, tapi suatu jalan hidup, kita hanya memberikan gambaan sederhana saja di sini. Tapi agama islam juga pada hakikatnya jauh dekatnya adalah suatu alternative hidup yang sebenarnya penuh pilihan. Suatu nilai yang didisain untuk manusia dan bukan untuk Tuhan, ingat itu. “Inna Kholakna din al islam illa rahmatan nil’alamin”. Agama Islam kecuali adalah untuk kemanusia untuk manusia, dan untuk bumi ini sendiri, nyatanya yang butuh menyembah dan mencintai Tuhan adalah diri kita sendiri, karena Allah maha kuasa (al Ghany), maka Ia sama sekali tidak membutuhkan kita apapun termasuk sholat kita.

“Ya Ayyuhannas, antumul fuqarau ilaAllah, wAllahu huwal khamidul Khamid, Iyas’yudhibkum waya’ti bi kholkin Jadit”
Manusia oh manusia, kamulah yang sesungguhnya miskin di hadapan Allah, Allah Maha Kaya sama sekali tidak membutuhkan apa-apa darimu, sekiranya Ia menghendaki maka dimusnahkan kamu semua, dan diganti dengan mkhluk yang baru, bagi Allah itu sangatlah mudah.
Maksud ayat ini kiranya sangat jelas, bahwa agama diciptakan untuk manusia dan bukan untuk  ‘kebutuhan’ Tuhan. Sungguh benar-benar salah bila sekelompok orang mengupayakan diri untuk menghujat kelompok lain atas nama pembelaan Agama dan bahkan Tuhan.

Jumat, 24 Desember 2010

Mengapa Allah menciptakan laki-laki yang mencintai laki-laki ?

from our page fb: http://www.facebook.com/topic.php?uid=175723866345&topic=14623

1. Homoseksual adalah sebuah kenyataan yang benar-benar ada di peradaban manusia.

2. Institusi, lembaga agama, dan ilmu pengetahuan sedikit banyak mempengaruhi makna homoseksual, baik mendistorsi maknanya atau memperjelas identitasnya.

3. Agama Islam melarang perbuatan Homoseksual tapi semua muslim percaya bahwa Tuhannya yang maha pencipta memiliki hak untuk menciptakan laki-laki yang mencintai laki-laki.

4. Jumhur 'ulama' (tentu dengan bermacam argumen dan alat baca manuskrip hukum islam) mengatakan bahwa Gay / Homosek adalah perbuatan haram dan berdosa, walaupun itu tidak merugikan orang lain.

5. Beberapa kelompok islam moderat (tentu dengan bermacam argumen dan alat baca manuskrip hukum islam) tidak hanya mengutuk atau memarginalkan Homoseksual tapi ada tanggung jawab memberi solusi, seperti agar gay belajar mencintai wanita atau setidaknya menahan diri dari nafsu mencintai sesama jenis dengan puasa atau menikah.

6 Cendekiawan muslim liberal dan kontenporer mengakui keberadaan homoseksual sebagai kewajaran natural, dan memberi bermacam catatan dalam mencintai pasangannya (menghindari perzinahan), tentu juga dengan bermacam argumen dan alat baca manuskrip hukum islam.

7. Pada kenyataannya, tidak semua pelaku homoseksual menjalani kehidupan yang setia pada pasangannya, karena berbagaimacam catatan seperti merasa keberadaannya tidak diakui dalam sejarah manusia, padahal dalam kenyataannya mereka menjumpainya dalam dirinya sendiri.

8. Pelaku homoseksual memiliki vareasi penerimaan, dari yang a. menerima namun berusaha untuk sembuh, b. menolak dirinya dan melakukan tindakan kontraproduktiv seperti membenci dirinya dan membenci homoseksual, c. menerima dan menjalani perilaku homoseksual secara 'wajar', d. menerima dan berperilaku diluar batas.

9. Dan pada kenyataannya tidak semua perilaku homoseksual bisa 'sembuh' dan bahkan banyak pula yang menjadikannya sebagai identitas yang soliter pada diri mereka (Gay).

pertanyaan---> 1. bagaimana batas-batas homoseksual? 2. sebuah pertanyaan filosofis, Mengapa Tuhan menciptakan manusia laki-laki yang mencintai laki-laki bila mungkin menurun jumhur ulama', juga mengutuk homoseksual (versi cerita nabi luth as.)?

Batas-batas :